Senin, 29 Februari 2016

Sempena HUT Damkar, Syamsuar Terima Penghargaan.


Sempena HUT Damkar, Syamsuar Terima Penghargaan.

Dari alun-alun Simpang Lima Kota Semarang Jawa Tengah (01/03/16), dihadapan puluhan Kepala Daerah dan 1500 pasukan Pemadam Kebakaran (Damkar), Bupati Siak Syamsuar menerima penghargaan dari Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo. 

Penghargaan kali kedua yang diterima sempena Upacara Peringatan HUT Damkar ke 97 Tingkat Nasional itu, merupakan bentuk reward atas upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dikawasan gambut disepanjang tahun 2015 lalu.

Inspektur Upacara, Mendagri Tjahyo Kumolo, mengingatkan seluruh kepala daerah di Indonesia, bahwa tiap-tiap daerah harus sudah punya satuan dan armada damkar. "Target paling lama 15 menit harus sudah tiba di TKP" kata Tjahyo.

Selain itu dalam amanatnya, Pemerintah Daerah juga diingatkan untuk senantiasa bersinergi dengan semua elemen terkait didaerah dalam rangka pecegahan kebakaran didaerah nya. "Koordinasi dan kerjasama dan kesiagaan harus terus dijaga dengan baik dengan Kepolisian, BPBD, maupun Damkar" tutup Menteri Kabinet Kerja Ini.

Usai mengikuti rangkaian upacara, Bupati Syamsuar rencananya didaulat untuk membeberkan upaya dan strategi yang dilakukan Pemkab Siak saat menanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan beberapa tahun terakhir.

Baca selengkapnya

Jumat, 26 Februari 2016

Direktur Kebudayaan TMII Salut Dengan Syamsuar




Direktur Kebudayaan TMII Salut Dengan Syamsuar
 
Siak –Direktur Kebudayaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ade F Meliala, mengaku salut dengan rencana jangka panjang yang dibikin oleh Bupati Siak, Syamsuar, soal upaya menjaga tradisi dan budaya yang ada di ‘Negeri Istana’ di tengah modernisasi yang ada. Membangun dan mengembangkan pariwisata Siak yang berbasis kebudayaan melayu.
 
“Ini luar biasa. Banyak orang yang hanya berfikiran jangka pendek soal pengembangan pariwisata. Paling lima tahun. Ini tidak. Bapak berfikir jauh ke depan. Saya salut,” kata perempuan ini saat menggelar pertemuan di Zamrud Room komplek rumah dinas bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura, Kamis (25/2) malam. Dia bersama rombongan dari Jakarta dan Pekanbaru.
 
Ade yang sudah kali kedua datang ke Siak ini mengaku bahwa dia bersama rombongan sudah keliling Kota Siak. Kota Siak semakin indah, kota yang luar biasa. Tak hanya indah, tapi Siak punya roh untuk lebih maju lagi.
 
Sebelumnya Syamsuar cerita panjang lebar soal asal mula kerajaan Siak yang dibangun pertama kali oleh Raja Kecik pada tahun 1723 silam. Terus dia juga cerita soal potensi besar yang ada di Kabupaten Siak yang bisa dijual hingga ke mancanegara. Ada peninggalan sejarah seperti Istana Siak, Tangsi Belanda, gudang mesiu, sejumlah museum, makam para raja dan sederet peninggalan sejarah lain.
 
Siak juga punya sejumlah tasik, hutan alam seperti Cagar Biosfer, Suaka Margasatwa Zamrud dengan danau unik yang punya pulau yang bisa berpindah-pindah. “Kami sudah mengusulkan kawasan ini menjadi Taman Nasional Zamrud. Mudah-mudahan segera terwujud. Sebab di jaman Presiden SBY persis saat meresmikan jembatan tengku Agung Sultanah Latifah, kawasan ini sudah diresmikan sebagai Taman Nasional Zamrud. Tapi secara administrasi sampai sekarang belum kelar,” katanya.
 
Jika kelak menjadi Taman Nasional, potensi yang ada di sana kata Syamsuar akan bisa digarap maksimal sebagai kawasan ekowisata dan konservasi yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Dan jika sudah jadi taman nasional, Pemkab Siak pun akan bisa membikin zonasi.
 
Lantas ada lagi objek wisata buatan semacam sumur minyak bersejarah di Minas dan Pusat Latihan Gajah (PLG) di Minas yang berdekatan dengan Taman Hutan Raya (Tahura). “Makanya saya bilang sama banyak orang. Di Siak mau sebentar apa mau lama? Mau sebentar kami punya sumur minyak bersejarah dan PLG tadi. Sangat dekat dengan Pekanbaru,” katanya.  
 
Untuk mengembangkan semua potensi tadi, Pemkab Siak kata Syamsuar sudah membikin Grand Disain pengembangan kebudayaan melayu. Ini sengaja dibikin supaya saat berganti pimpinan, rencana pengembangan kebudayaan tadi tidak berubah.
 
Pembenahan-pembenahan kata Syamsuar juga sudah dilakukan. Mulai dari restorasi tempat-tempat bersejarah tadi, pembinaan kampung-kampung adat, memasukkan kurikulum kebudayaan melayu di sekolah, hingga pembangunan dan penataan sejumlah museum sudah dilakukan. “Kami lakukan semuanya berbasis kebudayaan. Dan ini juga sejalan dengan misi Pemprov Riau,” katanya.
 
Pertemuan dengan rombongan Ade tadi tak hanya oleh Syamsuar sendiri. Tapi ada sejumlah pimpinan SKPD dan tokoh masyarakat serta tokoh adat. Besoknya (hari ini), Ade dan rombongan masih akan keliling Siak. Sebab ada satu misi yang akan mereka jalankan. Membantu Pemkab Siak ‘menjual’ potensi besar tadi ke seluruh penjuru. (hms

Baca selengkapnya

Kamis, 25 Februari 2016

Syamsuar Tertarik Karya Josaphat


Syamsuar Tertarik Karya Josaphat

Ada suasana berbeda di Lantai III Gedung Pasca Sarjana Universitas Islam Riau, Jumat pagi (26/02/16). Bupati Siak Syamsuar bersama beberapa pemangku kepentingan lain berkumpul disana sempena Focus Group Discussion UIR. Diantara yang hadir bersama Syamsuar adalah Rektor UIR Detri Karya, utusan sejumlah instansi terkait Pemerintah Provinsi Riau, perwakilan PT Chevron Pasific, sejumlah guru besar dan dosen lintas keilmuan dari kampus UIR.

Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Phd, ilmuwan dunia asal Indonesia yang jadi pusat perhatian seisi ruangan, tengah serius bercerita tentang penemuan sistem radar yang dikembangkannya di Joshapat Microwave Remote Sensing Laboratory, sebagai pusat riset remote sensing di Chiba University Jepang.

Temuan Josaphat ini tak tanggung-tanggung, menyangkut hajat hidup orang banyak. Pesawat tanpa awak terbesar di Asia bikinan dia yang dipadukan dengan sistem rasdar canggih, bisa di pakai untuk banyak kegunaan.

"Sistem radar remote sensing yang kita kembangkan bisa memprediksi kejadian gempa dan tanah longsor, pemetaan tanah gambut, pemetaan potensi sumber daya alam, pemantauan karlahut dan lain-lain" jelas guru besar teknologi geologi Jepang ini.

"Ada lima model satelit berkinerja akurat, misalnya untuk dapatkan info pergeseran tanah tiap jam atau setidaknya dua kali sehari yang bisa menolong nyawa banyak manusia" jelas Josaphat.

Dia juga bilang, informasi data satelit ini, Pemerintah Daerah sebagai user bisa bertindak lebih cepat menangani bencana, karena 5 hari sebelum terjadi sudah bisa diketahui untuk dilaksanakan evakuasi. "Dalam satu tahun, pergerakan tanah satu milimeter pun bisa kita deteksi" imbuhnya.

Bupati Syamsuar yang diundang hadir tampak antusias. Dukungan pun mengalir dari orang nomor satu negeri istana ini. "Saya bangga karena Karya Prof Josaphat ini luar biasa dan banyak sekali manfaatnya, misalnya untuk mengetahui perkiraan akurat berapa perkiraan cadangan minyak bumi yang dimiliki daerah, ini erat kaitannya dengan peluang investasi" terang Syamsuar buka suara.

Selain itu kata dia, dengan alat ini pemetaan lahan gambut akan lebih mudah, sehingga kebijakan yang akan diberlakukan Pemda tepat guna dan tepat sasaran. "Kan tidak harus semua masyarakat menanam sawit, mengingat lahan gambut kita kedalannya bisa lebih dari 20 meter. Kaitannya deteksi titik karlahut" terang dia.

Ditegaskan Syamsuar, Pemerintah Kabupaten Siak yang telah menjalin kemitraan dengan UIR mendukung penuh kerjasama UIR dan Chiba University Jepang berkenaan alih teknologi dan terapan remote sensing ini.

"Ini tentu sangat dibutuhkan Pemkab ini. Khusus tentang karlahut, kita juga butuh teknologi baru yang dapat membantu Pemda deteksi dini dan pencegahan karlahut yang lebih akurat. Tentu UIR dan Chiba sudah siap membantu untuk ini" tutup pria tiga anak ini.



Baca selengkapnya

Rabu, 24 Februari 2016

Amanah Masyarakat Negeri Istana, Lunas Tertunai di Kampar.



Seremonial penyerahan bantuan sembako dari masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Siak bagi korban banjir di Kabupaten Kampar, berlangsung di Gedung Aula Serbaguna Desa Muara Uwai Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar, Rabu malam (24/03/16). Tak hanya sekedar menghantarkan amanah masyarakat, silahturahim yang terjalin antara kedua belah berlangsung pihak hangat bak pertemuan dua keluarga besar yang lama tak bersua.
Adalah Jamaluddin, Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Siak yang didapuk Bupati Syamsuar bersama Kabag Kesra Darussalim memimpin rombongan Pemkab Siak pengantar bantuan, pertama sekali membuka cerita soal latar belakang dirinya yang masih memiliki darah sebagai orang keturunan Kampar. “Kami ikut merasakan cobaan yang dirasakan saudara-saudara kami di Kampar rasakan beberapa waktu lalu. Sehingga masyarakat dan pemkab ingin sekali membantu. Terlebih lagi bagi saya sendiri yang sebenarnya masih terhitung orang sini” Kata Jamal dihadapan Kepala Desa dan Lurah se-Kecamatan Bangkinang dan masyarakat yang hadir. Tak hanya Jamal, saat memperkenalkan diri satu-persatu, tuan rumah semakin terkesan karena ternyata sebagian besar rombongan pengiring didominasi warga keturunan ocu Kampar yang mengabdikan diri di Kabupaten Siak.
Kepada masyarakat yang berkumpul di Muara Uwai, Jamal menjelaskan bantuan ini dikumpulkan dari pelajar dari berbagai sekolah, guru, masyarakat luas, dan Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemkab Siak, yang dikomandoi langsung Bupati Siak Syamsuar. Bantuan itu tak hanya berupa sembako, tapi juga ada yang berwujud berupa barang keperluan sehari-hari seperti susu bayi, kecap, pakaian layak pakai, handuk dan pembalut. “Jumlah amanah yang dititipkan kepada kami ini nilainya kalau ditotal hampir 200 juta rupiah dan diangkut dengan 4 truk, untuk disebar di Dusun Uwai, Kelurahan Pulau, Kelurahan Pasir Sialang, Desa Pulau Lawas, Desa Muara Uwai, Desa Sungai Tonang, dan Kelurahan Binuang di Kecamatan Bangkinang dan Kampar Utara” kata dia.
Sedianya kata Jamal, Bupati Siak Syamsuar berencana mengantar langsung amanah masyarakat negeri istana ini Kamis besok (26/03/16), namun karena ada agenda yang juga tidak kalah penting, Orang nomor satu di Kabupaten Siak itu memerintahkan dirinya untuk mengantarkan amanah ini. “Bapak Bupati Syamsuar berkirim salam untuk kita semua, marilah kita berdoa kepada Allah SWT semoga Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar mendapatkan lindungan dari segala bentuk musibah” tutup Jamal.
Dilain pihak, Pemkab Kampar yang diwakili Asisten I Setda Kabupaten Kampar Ahmad Yuzar, yang hadir ditemani Camat Bangkinang Amir Lutfie, menyampaikan ucapan terimakasih atas kepedulian masyarakat Kabupaten Siak terhadap penderitaan masyarakat yang tinggal disepanjang aliran sungai Kampar beberapa waktu lalu. “ Ini sekaligus bentuk silaturrahmi antara masyarakat Siak dan Kampar, hanya Allah saja yang dapat membalas amal ibadah ini. Untuk itu saya tugaskan saudara kepala desa dan lurah untuk dapat menuntaskan amanah ini sebaik-baiknya” kata Yuzar.
Baca selengkapnya

Pertemuan  Syamsuar Dengan 4 Sekawan


Siak -  Muhammad Iqbal, Asma Wati, Ade Arya Irawan dan Safiga Arinda kedatangan tamu istimewa; Bupati Siak, Syamsuar, Rabu (24/2). Di ruang kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Mempura di jalan Perjuangan Benteng Hulu itu, anak-anak kelas VIII ini cerita panjang lebar soal apa yang sudah mereka temukan dua bulan belakangan.
 
Awal bulan depan, mereka akan terbang ke Penang Malaysia. Di sana, di Southeast Asian Ministers of Education Organization - Regional Centre for Education in Science and Mathematics (SEAMEO-RECSAM) anak-anak ini akan memaparkan Efek penyiraman ektrak tanaman serai terhadap pertumbuhan tanaman kangkung.    
 
Di satu sisi Syamsuar haru lantaran ternyata anak-anak ini berasal dari keluarga tak mampu. Pekerjaan orang tua mereka hanya seorang buruh. Di sisi lain, Syamsuar bangga lantaran mereka mampu menoreh tinta emas untuk negeri.
 
Bahwa lantaran hasil penelitian awal yang mereka sodorkan ke Seameo Recsam pada September tahun lalu, keempat anak ini bisa berdiri di hadapan para ilmuwan Seameo. “Surat panggilan untuk paparan itu kami terima pada Desember lalu,” cerita Edi Saputra, guru pendamping empat sekawan tadi.
 
Hanya hitungan detik Syamsuar sudah akrab dengan mereka. Anak-anak ini pun dengan lancar menjelaskan apa-apa saja yang ditanya Syamsuar soal seluk beluk ekstrak batang serai tadi. Iqbal kemudian memaparkan begini;
 
Batang serai dipotong-potong kecil kemudian diblender. Setelah halus, dicampur dengan larutan EM4. Larutan yang mengandung bakteri Asam Laktat (Lactobacillus Sp), Bakteri Fotosentetik (Rhodopseudomonas Sp), Actinomycetes Sp, Streptomyces SP dan Yeast (ragi) dan Jamur pengurai selulose.
 
Setelah difermentasi, senyawa ini kemudian disiramkan ke tanaman kangkung. “Kami bikin dua tempat. Satu tempat yang hanya disiram air dan satu lagi yang disirami ektrak serai. Hasilnya, masa panen yang biasanya 1,5 bulan, bisa menjadi 18 hari. Selain itu, tanaman juga tidak terserang hama,” cerita Iqbal.
 
“Saya bangga dengan kalian. Apa yang kalian dapatkan sekarang menjadi bukti bahwa kalian punya kemampuan. Dan saya yakin ini lantaran kerja keras dan semangat kalian belajar,” katanya. Lekat mata anak-anak itu memandangi Syamsuar.
 
Syamsuar pun jadi kembali teringat dengan masa kecilnya. Masa dia harus banyak menahan keinginan lantaran kehidupan orang tua yang pas-pasan. Menahan keinginan kuliah dan terpaksa menjadi buruh kasar di kawasan Sawah Lunto Sumatera Barat demi melanjutkan kehidupan.
 
“Jangan sesekali berkecil hati melihat teman-teman kalian yang berasa dari keluarga berada. Semangatlah. Semangat belajar dan pantang menyerah akan membuka jalan bagi kalian untuk menggapai cita-cita,” Syamsuar menyemangati.
 
Maklum, cita-cita keempat anak ini tergolong tinggi. Safiga ingin jadi pengusaha, Asma dan Iqbal mau jadi peneliti. Sementara Ade ingin jadi dokter.  Meski begitu, mereka berempat sama-sama senang dunia jurnalistik. Itulah yang membikin mereka sempat ‘wawancara’ khusus dengan Syamsuar.
 
Selain menyemangati, Syamsuar menyelipkan pesan supaya mereka juga menjadi duta wisata Kabupaten Siak selama berada di sana. “Kenalkan Siak di sana. Bilang, kalau mau tahu melayu yang sebenarnya, datang saja ke Siak,” begitu pesan Syamsuar.
 
Nanti kata Syamsuar, hasil peneletian empat sekawan tadi di kembangkan di sekolah. Anak-anak bikin kebun percontohan biar masyarakat sekitar dan luar Mempura tahu dan pada akhirnya minta ilmu itu untuk dipraktekkan di daerah masing-masing. “Yang seperti ini sangat bisa menghasilkan uang.  Tidak hanya untuk sekolah tapi juga masyarakat luas,” katanya. (hms)
Baca selengkapnya

Cara Siak Kurangi Sampah



Siak - Bupati Siak, Syamsuar, mendadak datang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kawasan Buantan Rabu (24/02). Dia ditemani Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Irving Kahar serta Kadis Pasar Kebersihan dan Pertamanan (PKP).

Di lahan seluas 4 hektar itu Syamsuar melongok satu persatu aktifitas di sana. Mulai dari pemilahan sampah-sampah organik dan an organik hingga penimbangan sampah yang baru masuk ke komplek yang dijejali 10 ton sampah per hari itu. Sampah-sampah yang berasal dari kawasan Sabak Auh, Bunga Raya, Sungai Apit dan sekitarnya serta Kota Siak Sri Indrapura.  

Kedatangan Syamsuar ke TPA tadi adalah bagian dari keinginan dan misi Pemkab Siak untuk menjadikan “Negeri Istana’ menjadi Kabupaten Hijau. Termasuk oleh misi Siak yang menjadi destinasi wisata di Provinsi Riau. “Siak jadi destinasi wisata, kalau ndak bersih kan ndak elok,”
katanya.

Tak hanya sekadar bersih, Syamsuar ingin volume sampah yang masuk ke TPA makin hari makin berkurang. Caranya, pemkab akan lebih gencar sosialisasi kepada masyarakat dan komplek perumahan pemerintah untuk memilah sampah lebih dahulu, sebelum ditaruh di penumpukan sementara.

Sebab sebahagian sampah itu bisa jadi duit. Misalnya plastik, kardus dan botol plastik. Bank sampah yang sudah sejak tiga tahun lalu beroperasi di dekat Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Siak di kawasan jalan Panglima Undan komplek perkantoran Sungai Betung. “Sampai sekarang nasabahnya sudah mencapai 200 orang,” terang Kadis Pasar, Wan Ibrahim.

Terus, sampah-sampah yang ada di TPA juga didaur ulang. Ada yang jadi biji plastik, ada pula yang dibikin hiasan. Yang layak jadi biogas, didaur jadi biogas. Makanya Syamsuar bilang sangat memungkin ada tempat pembuatan biogas di TPA Parit Baru maupun TPA di Perawang yang kedatangan sekitar 16 ton sampah tiap hari. “Saya ingin TPA yang ada ditata. Biar kelihatan bersih. TPA juga bisa jadi tempat wisata kalau penataannya bagus,” ujar Syamsuar.

Biar misi tadi tercapai, Syamsuar sangat berharap peran aktif masyarakat. Sebab tanpa itu semua, misi pemerintah tak akan tercapai. “Saya berharap masyarakat semakin cinta dengan daerah ini, cinta lingkungan, biar misi daerah ini tercapai; menjadi kabupaten hijau dan destinasi wisata yang selalu dirindukan orang. Kebersamaan sangat penting untuk mencapai tujuan mulia ini,” Syamsuar berharap.
Sampai sekarang kata Wan, ada 5 dump truk, 3 amrul dan 4 pick up yang saban hari mengantar sampah ke TPA tadi. 

Sebelumnya, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, Nedik Tri Nurcahyo,  mengatakan kalau Siak sangat layak menjadi Kota Pusaka dan destinasi wisata yang mumpuni. Sebab Siak punya sederet peninggalan sejarah yang lengkap. Mulai dari istana, tangsi belanda, makam bersejarah dan sederet peninggalan lain. “Tata kotanya juga indah,” katanya.

Siak juga dikelilingi hutan alam yang masih sangat bagus. Ada kawasan Cagar Biosfer, kawasan Danau Zamrud, kawasan Semenanjung Kampar dan Taman Hutan Rakyat. Soal kawasan hutan ini lah makanya baru-baru ini Syamsuar mengajak sejumlah pegiat lingkungan diskusi, gimana caranya supaya hutan yang ada bisa lestari dan bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. (hms)
Baca selengkapnya

Jumat, 19 Februari 2016

Berharap Siak Negeri Barokah




Semangat Syamsuar Syiar Agama
Berharap Siak Negeri Barokah
Siak - Urusan tugas negara, kemampuan Syamsuar dan Alfedri tak diragukan lagi. Hampir semua lini yang dikerjakan oleh Bupati dan Wakil Bupati Siak ini selalu mendapat reward. Tak kurang dari 140 penghargaan didapat dalam kurun waktu empat tahun belakangan. Ada yang dari pemerintah provinsi dan banyak pula dari Pemerintah Pusat.
Tapi urusan tugas akhirat, keduanya masih gamang. Sebab sebagai pemimpin yang  beragama islam, ada sederet persoalan pada masyarakat melayu islam, khususnya di Siak, yang musti mereka runut, biar on the track lagi.
Setidaknya, mendekati apa yang pernah terjadi pada masa silam. Pada masa para Sultan memimpin Siak. Pada masa aqidah menjadi rambu keseharian. Pada masa suluh mengantar tetua dan yang muda menjejali langgar.
Pada masa prosedur dan ketetapan (protap) akad pernikahan menjadi ritual yang sakral dan pada masa ghatib beghanyut, khatam Quran, berzanji menjadi kebutuhan rutin. “Dulu orang tua sangat malu apabila anaknya tidak khatam Quran saat akan menikah. Ini semua menjadi beban moral kami di masa sekarang,” Syamsuar mulai buka-bukaan jelang meresmikan masjid Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah di kawasan jalan Padat Karya Kampung Benteng Hilir Kecamatan Mempura, jelang siang tadi. Dia didapuk berdiri di podium yang disiapkan panitia.
Masjid Sultan Ismail berkapasitas 800 orang itu adalah masjid besar kedua yang diresmikan oleh Syamsuar sepekan belakangan. Masjid Sultan Ismail yang berornamen benteng itu seluas 1015 meter persegi. Berdiri di atas lahan hasil wakaf masyarakat setempat, seluas 5.200 meter persegi.
Empat qubah bertengger di bagian atas. Di sisi depan, kanan, kiri dan tengah. Qubah terakhir menjadi qubah yang paling besar. Berdiameter sekitar 8 meter. Bangunan tempat wudhu di sisi kiri masjid menjadi pelengkap.
Sehari sebelumnya Syamsuar meresmikan masjid Abdul Djalil Rachmad Syah di Kecamatan Lubuk Dalam. Sama seperti di masjid Sultan Ismail itu, Syamsuar juga menumpahkan unek-uneknya soal keadaan melayu islam sekarang.
Keadaan yang tak hanya terjadi di Siak, tapi juga di zajirah melayu yang ada di Riau. Banyak orang risau lantaran sudah kehilangan melayu islam di daerahnya. “Makanya sekarang, satu-satunya yang diharapkan adalah Siak. Siak bisa menjadi daerah melayu islam. Harapan ini jugalah yang membikin kami keukeuh melakukan banyak hal demi tegaknya syariah,” ujar Syamsuar.   
Bahwa pembangunan masjid di semua kecamatan dan bahkan di kampung kata lelaki 61 tahun ini adalah bagian dari pengembalian kegemilangan melayu islam di masa lalu. Sebab di masjid, banyak ilmu yang bisa dikorek. Banyak obat mujarab yang bisa didapat. “Sejak lama masjid sudah menyodorkan manajemen keuangan yang transparan. Tiap minggu, bahkan tiap hari selalu ada laporan keuangan," katanya.
Masjid juga menjadi tempat yang ampuh untuk menghadirkan ketenangan jiwa, mempererat silaturrahim. “Kalau jiwa sudah tenang dan silaturrahim berjalan, ini sudah jadi modal besar bagi kita untuk membangun negeri ini,” Syamsuar meyakinkan.  
Berharap Menjadi Gerakan
Adalah makam Syeh Abdurrahman di kampung Rempak Siak Sri Indrapura yang belum lama ini diziarahi oleh Dahlan Iskan, mantan menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).  
Di Mempura, ada pula jalan Indragiri yang sejak lama tak boleh diganti. Sebab jalan itu punya cerita tersendiri pada perjalanan Siak di masa lalu. Bahwa dulu ada syeh dari Indragiri yang datang ke Siak layaknya Syeh Abdurrahman dari tanah jawa. Syeh Abdurahman dan syeh dari Indragiri ini menjadi bagian dari banyaknya orang-orang soleh di Siak.
  
Syamsuar kemudian menceritakan seperti apa Syeh Burhanuddin yang selalu membawa payung saat akan sholat ke masjid Syahabuddin yang ada di seberang Istana. “Tuan Syeh selalu bawa payung. Tapi bukan untuk jaga-jaga kalau kemudian turun hujan. Tapi untuk penutup saat dia berpapasan dengan perempuan. Dia tak ingin melihat perempuan itu,” katanya.
Dan suatu saat, kala Tuan Syeh tak sholat ke masjid Syahabuddin, adalah orang tergopoh-gopoh datang ke rumah tuan syeh. Orang ini melapor kalau anak tuan syeh nyebur ke sungai. Tuan syeh tidak langsung panik. Malah dia bilang,” Iyalah. Saya sholat dulu. Habis sholat, tuan syeh baru datang ke sungai dan menolong anaknya yang ternyata sehat walafiat,” Syamsuar cerita.
Soal tuan syeh yang dari Indragiri, sangking sholehnya, tubuh syeh ini tak basah saat diguyur hujan. “Saya menceritakan ini sebagai gambaran saja betapa indahnya kehidupan beragama di masa silam. Nah sekarang, sayang kalau masa lalu yang indah itu berubah jelek,” kata Syamsuar.
Demi masa lalu yang indah itulah kemudian Syamsuar mengajak semua masyarakat untuk menjadi lebih baik. “Caranya ya berpeganglah pada Quran, hidupkan Tahfis dan majelis taklim. Sungguh, saya sangat berharap dalam hidup, ada peningkatan ibadah. Pedulilah pada quran dan negeri. Biar jadi barokah,” katanya.  
Khusus soal majelis taklim kata Syamsuar, bapak-bapak dan ibu-ibu tidak hanya menjadi bagian dari syiar islam itu. Tapi juga akan menjadi corong pemerintah untuk menyampaikan kabar terbaru. “Peliharalah masjid, biar kita termasuk orang yang ikut membangun masjid di surga jannatunnaim,” pintanya.
Syamsuar juga minta supaya tradisi islami masa silam dihidupkan kembali. Mulai dari ghatib beghanyut, ritual sakral akad nikah, khatam quran dan sederet tradisi lain. “Yuk kita jadikan ini menjadi sebuah gerakan bersama. Sebab tanpa andil masyarakat, semua ini tak akan bisa jalan. Sebagai orang tua, marilah kita menjadi pelopor kebaikan di rumah tangga masing-masing,” pintanya.
Kepada sekolah-sekolah yang ada di Siak, Syamsuar juga berharap supaya mengarahkan anak-anak untuk senang dengan sejarah keislaman masa silam. Soal agama, sekolah negeri jangan malu belajar ke ibtidaiyah. Sebab di ibtidaiyah tak ada yang berubah.
Lantas, walau Siak sudah digesah menjadi destinasi wisata kata Syamsuar, pembangunan masyarakat agamis tetap yang paling utama. “Sebab soal wisata pun, kami membikin sesuai agama. Jadi jangan heran kalau karaoke keluarga tak boleh ada di Siak. Termasuk organisasi-organisasi yang justru lebih banyak mudoratnya. Saya berharap masyarakat Siak tidak gampang tergiur untuk masuk organisasi. Tidak gampang tergiur dengan baju seragam dan iming-iming lain,” pintanya.
Apa-apa yang dikatakan Syamsuar tadi, sebenarnya juga dia sampaikan kepada puluhan ustadz yang sengaja dia undang pengajian di kediaman bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik. Tiap malam jumat pekan terakhir kata Syamsuar, pengajian dan diskusi bakal rutin dilakukan. Syamsuar akan giliran mengundang ustadz-ustadz dari semua kecamatan.
Satu hal yang penting lagi kata Syamsuar, sejak lama Siak sudah dihuni oleh masyarakat yang heterogen. Gerakan mengembalikan kejayaan melayu islam di masa silam tidak akan menjadi ganjalan bagi umat beragama lain. Sebab kata Syamsuar, di agama manapun tak akan pernah ada ajaran membangunan permusuhan.  

Baca selengkapnya

Selasa, 16 Februari 2016

Tahniah dan Doa Dari ‘Negeri Istana’



Terhitung mulai hari ini, ada empat pasang kepala daerah yang akan segera menjalankan amanah rakyat. Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti serta Walikota dan Wakil Walikota Dumai.

Tiga dari pasangan kepala daerah ini masih serumpun dengan Kabupaten Siak. Sebab berasal dari kabupaten induk yang sama, Kabupaten Bengkalis. Dimana Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis terpilih sendiri juga menjadi bagian dari pasangan yang segera menjalankan amanah itu.

Selaku rekan sejawat dan saudara serumpun, Bupati Syamsuar yang didampingi sang istri Hj Misnarni Syamsuar, bercerita bahwa momen ini sangat berarti bagi Kabupaten Siak yang berjuluk negeri istana.

"Kelak, akan banyak hal yang bisa kita diskusikan, kita kerjasamakan, demi mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan selaksa kebhinekaan potensi di daerah kita masing-masing" Kata Syamsuar usai menghadiri acara Pelantikan empat kepala daerah di Balai Serindit Kediaman Gubri (17/02).

Begitu juga dengan Kabupaten Indragiri Hulu kata Syamsuar. Ada banyak kesamaan potensi daerah yang bisa dikerjasamakan. "Khususnya potensi pariwisata peninggalan sejarah yang sama-sama kita punya" lanjutnya.

Sebagai daerah yang mengusung semangat Siak The Truly Malay, Datuk Setia Amanah ini menyimpan keyakinan, bahwa tiap daerah punya tujuan yang sama. Yaitu sama-sama berusaha untuk memajukan daerah dan mensejahterakan rakyat.

"Untuk itu saya Bupati Siak Syamsuar dan Wakil Bupati Siak Alfedri, bersama seluruh masyarakat Kabupaten Siak mengucapkan Tahniah. Doa kami, kiranya Allah SWT selalu mengawal langkah kita, hari-hari kita dalam menjalankan amanah itu, demi satu tujuan; memajukan daerah demi terwujudnya masyarakat yang agamis dan sejahtera" tutupnya.

Baca selengkapnya

Jumat, 12 Februari 2016

Menata Pusaka Negeri Istana



 
Siak punya modal besar untuk menjadi cagar budaya nasional dan kota pusaka. 

Lepas menemani Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, Nurmatias, Bupati Siak, Syamsuar, langsung  menggelar rapat bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Siak di Zamrud Room, komplek kediaman Bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.
 
Mulai dari Wakil Bupati Siak Alfedri, Sekda Siak Tengku Said Hamzah, Kadis Cipta Karya Irving Kahar, Ketua Bappeda Yan Prana, Kadis Pariwisata Hendrisan, serta sejumlah pejabat lain ikut duduk di ruangan itu.
 
Hasil obrolan Syamsuar dan Nurmatias sambil menengok sederet peninggalan sejarah di Siak yang kemudian dibuka lelaki 62 tahun ini di sana. Intinya, bahwa 14 situs bersejarah yang ada di Siak musti didaftar ulang, meski sebenarnya situs itu sudah pernah terdaftar.
 
Amanah undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang membikin Syamsuar harus ekstra kerja keras. “Untuk mendaftarkan ulang situs tadi kita musti membentuk tim cagar budaya daerah. Tim ini berjumlah 5 sampai 7 orang. Kalau 7 orang, 3 orang dari unsur pemerintah, sisanya tokoh dan para ahli,” kata Syamsuar.
 
Tim ini musti lolos assessment dulu. Assessor untuk tim ini adalah tim khusus bentukan kementerian. “Makanya saya minta Sekda mencari orang-orang yang layak untuk mengikuti assessment ini,” pinta Syamsuar. “Siapkan saja 10 orang,” tambahnya.
 
Ada dua penyebab utama yang membikin Syamsuar bergerak cepat. Pertama dia sudah membikin Grand Disain (GD) Pengembangan Kebudayaan Melayu di Siak. Lewat GD ini, dia ingin menunjukkan kalau Siak adalah melayu sebenarnya; Siak The Truly Malay. Siak menjadi pusat kebudayaan melayu di Nusantara.
 
Banyak yang musti dikerjakan Syamsuar untuk mewujudkan misi ini. Mulai dari mengumpulkan semua fakta dan peninggalan sejarah Kerajaan Siak yang pernah mashyur di pesisir timur Sumatera, menata kembali tradisi budaya yang pernah ada, musti dia jabani.
 
Nanti, hasil dari semua ini akan disandingkan Syamsuar dengan kekayaan peninggalan sejarah dan eksotika alam yang masih sangat terjaga.  Sebab Syamsuar dan semua pemangku kepentingan di Siak sudah sepaham bahwa ‘Negeri Istana’ musti bisa menjadi destinasi wisata alam dan budaya di Indonesia.  
 
Sebab modal untuk ini sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tengoklah peninggalan sejarah luar biasa bernama Istana Matahari Timur atau Istana Asserayah Hasyimiah yang masih berdiri kokoh di pusat Kota Siak Sri Indrapura. Ada sederet peninggalan unik yang tak akan pernah bisa ditemukan wisatawan di daerah bahkan negara lain.
 
Masih di kota itu, ada gudang mesiu, balai kerapatan tinggi, makam para raja, klenteng dan gereja tua serta pasar lama. Agak ke ke Barat, ada pula makam pendiri kerajaan Siak, Raja Kecik, kolam hijau di dekat suak gelanggang. Di timur ada pula makam putri kaca mayang.
 
Bibir sungai Siak, dari ujung kampung dalam hingga ke pasar lama sejauh 400 meter, sudah disulap menjadi kawasan pedestrian dan taman yang unik. Tahun ini, panjang itu ditambah hingga ke belakang masjid Syahabuddin di bagian timur. Di penambahan sepanjang hampir 500 meter ini, bakal ada taman, pedestrian dan monumen. Jika ini sudah rampung semua, banyak orang bilang bakal mengalahkan kawasan Lyon atau Seine di Prancis.
 
Lantas di seberang kota, persis di kecamatan Mempura, ada tangsi Belanda lengkap dengan ruang controleur, serta makam raja.  Lalu ada pula sederet objek wisata alam seperti Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.
 
Danau tujuh tingkat di Sungai Mandau dan Pantai Tanjung Layang di Kecamatan Sungai Apit, melengkapi itu semua. Belum lagi sumur minyak bersejarah dan Pusat Pelatihan Gajah di Kecamatan Minas.
 
Soal peninggalan sejarah Kerajaan Siak yang masih berserakan di luar Siak, seperti di Pekanbaru, Singapura, Sumatera Utara, Malaysia dan tempat lain, bakal dibikin peta komplitnya. Jadi, orang yang mau tahu tentang Siak yang sebenarnya, bisa berselancar lewat petunjuk lengkap yang ada di peta itu.
 
Lantaran komplitnya peninggalan sejarah yang ada di Kecamatan Siak Sri Indrapura dan Kecamatan Mempura, Pemkab Siak pun mengusulkan dua kawasan ini sebagai Kota Pusaka (Heritage City) ke Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Zonasi dua kawasan ini bakal dibikin. Sebab kelak, ada aturan main yang bakal berlaku di sini.
 
Jika sudah menjadi kota pusaka, maka Siak akan sejajar dengan  Kota tua Jakarta, Semarang, Sawah Lunto, Palembang, Bogor, Yogyakarta, Karangasem, Denpasar, Banjar Masin, Bau-bau, Banda Aceh dan Trowulan, yang sudah lebih dulu menjadi National Heritage.
 
Bagi Nedik Tri Nurcahyo, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, apa yang diinginkan oleh Pemkab Siak sangat bisa terwujud. Baik itu sebagai cagar budaya nasional, maupun Kota Pusaka. Sebab itu tadi, Siak punya banyak hal yang tak dimiliki oleh daerah lain. Salah satu yang sangat menonjol adalah istana dan adat istiadat melayu yang kental. Ini diwarnai pula dengan akulturasi budaya yang bagus antara Cina dan pribumi.
 
Keberagaman kata magister pengelolaan sumber daya budaya jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, menjadi sebuah kekuatan besar di Siak. “Akulturasi tadi menghasilkan kondisi seperti sekarang, luar biasa. Kelihatan sekali bahwa Raja Siak tidak menutup mata dengan bangsa lain. Dia justru welcome. Secara keilmuan dan secara pribadi saya kagum dengan Siak. Orang dulu membangun hubungan tak melihat dari sisi agamanya. Mereka malah berbaur. Di daerah lain banyak yang alergi rumah ibadah berdekatan. Di Siak justru tidak ada sama sekali,” katanya.
 
Untuk menjadi cagar budaya nasional misalnya, lelaki 47 tahun ini menyarankan supaya istana menjadi semacam komplek. “Artinya, istana satu komplek dengan masjid Syahabuddin, Balai Kerapatan, makam dan pasar lama. Ini menjadi satu kesatuan sejarah kolektif,” katanya di Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.
 
Lalu untuk menjadi Kota Pusaka, ayah tiga anak ini menyebut kalau Siak punya banyak hal yang bisa diandalkan. Tata letak perkantoran, jembatan yang super megah, kekunoan masa lalu dan hutan tua di tengah kota,  menjadi sesuatu yang sangat eksotis bagi wisatawan kelak.
 
Penempatan bangunan-bangunan Belanda di seberang sungai yang berhadapan dengan Istana Siak juga kata Nedik sangat menarik. “Di lihat dari tata ruang, sultan kayaknya sudah mengkondisikan. Bahwa di antara keduanya sama-sama saling mengawasi tapi tak ada konfrontasi. Ini sama kayak di Yogya. Di seberang keraton ada benteng Belanda. Yang kayak gini ini kan unik,” katanya.
 
Nedik mengingatkan, bahwa pusaka itu tak harus spesifik. Bisa kekunoan yang sangat penting bagi masyarakat, bisa pusaka alam, budaya atau saujana budaya (perpaduan antara alam dan budaya). Yang paling penting itu kata Nedik, semua pemangku kepentingan musti ngumpul dulu untuk menentukan apa yang bakal dimasukkan dalam Kota Pusaka itu.
 
Pusaka apa saja yang bakal ditonjolkan dan menjadi beda dengan daerah lain.  “Dan harus disepakati juga bahwa kelak pusaka itu tak akan hilang. Sebab kalau hilang, tidak pusaka lagi namanya,” ujar Nedik.
 
Sejak sekarang menjadi cagar budaya dan kota Pusaka kata Nedik, akan membikin Siak semakin kemilau di masa depan. Dan semua itu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Daya tarik lebih yang dimiliki Siak, sudah mendatangkan devisa dari kunjungan wisatawan yang semakin melimpah.
 
“Ini pulalah bedanya Siak dengan daerah lain. Sebelum benar-benar menjadi kota besar, Siak sudah menata daerahnya. Banyak daerah di dunia yang setelah maju dulu baru terseok-seok mencari jati dirinya. Asal usulnya,” ujar Nedik
Baca selengkapnya

Kamis, 11 Februari 2016

Bupati Siak Ekspos Penanganan Karlahut



Selama lima hari ke depan, ada 70 orang masyarakat dari tujuh desa yang ada di Kabupaten Siak mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) Berbasis Masyarakat di Aula Pinus Balai Diklat Kehutanan Provinsi Riau, di Pekanbaru, Rabu (10/2) kemarin. Mereka berbaur dengan utusan Indragiri Hilir dan Kampar yang masing-masing 10 orang.
Bupati Siak, Syamsuar, jadi salah satu pembicara di Diklat yang ditaja oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB itu.
Dia mengaku sangat senang Diklat itu digelar. Sebab bakal semakin banyak pengalaman dan ilmu yang didapat oleh warganya. “Sudah 18 tahun Riau selalu didera oleh bencana asap. Ini sangat berdampak bagi manusia dan lingkungan. Manusia kena penyakit, lingkungan rusak. Lantaran itu, penanganan, penanggulangan Karlahut musti jadi tugas kita bersama. Ndak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat,” katanya usai pembukaan Diklat itu, kemarin.
Di Siak kata Syamsuar, penanganan Karlahut musti lebih baik lagi. Tak berlebihan jika Syamsuar mengatakan seperti itu. Sebab sejak tahun 2014, Pemkab Siak sudah membikin sederet terobosan soal penanganan Karlahut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak, Wan Abdul Razak, merinci bahwa Pemkab Siak sudah memetakan mana-mana saja desa di Siak yang berpotensi Karlahut. Hasilnya, ada 71 desa di 14 kecamatan yang ada, berpotensi Karlahut.
Lima orang di tiap desa tadi kemudian dididik untuk penanganan dini Karlahut. Biar kerja mereka berjalan lancar, tiap desa dikasi biaya operasional Rp2 juta perbulan. “Jadi info dini soal potensi Karlahut, kita dapat dari mereka,” katanya.

Selain biaya operasional, tim di masing-masing desa ini juga dibekali peralatan seperti mesin pompa air, slang dan nozzle (penyemprot).

Apa yang sudah dilakukan oleh Pemkab Siak ini rupanya dipantau juga oleh Kementerian Dalam Negeri. Alhasil, tahun lalu Pemkab Siak diganjar sebagai daerah terbaik satu se-Indonesia soal penanganan Karlahut.

Di hari Pemadaman Kebakaran yang digelar di Kalimantan Selatan pada tahun lalu, Pemkab Siak kata Wan juga dapat menghargaan. “Bupati Siak didaulat menjadi narasumber di acara itu,” ujarnya.
Meski sudah melakukan banyak hal soal penanganan Karlahut tadi, Syamsuar masih berharap supaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mau membikin blocking canal di sejumlah titik yang ada di Siak. Khususnya di kawasan yang rentan terhadap Karlahut. Penertiban kawasan Cagar Biosfer juga menjadi teramat penting campur tangan pemerintah pusat. (hms)

Baca selengkapnya

Kerisauan Syamsuar di Raker LAM



Siak - Nampaknya Bupati Siak, Syamsuar, sudah lama memendam kerisauan tentang keseharian masyarakat melayu Siak. Tentang kecintaan pada agama, kebudayaan hingga siapnya mental masyarakat melayu Siak menghadapi perkembangan jaman.

Kerisauan tadi pun tumpah saat Datuk Setia Amanah ini didaulat memberikan arahan pada acara Rapat Kerja Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak di lantai dua gedung LAMR di kawasan jalan Hang Tuah, Siak Sri Indrapura, siang ini.

"Kita sudah berada pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sekarang sudah banyak warga di beberapa negara yang sengaja kursus di negaranya biar bisa bekerja di Indonesia. Ada warga Vietnam, Thailand, Philipina dan Myanmar. Mereka bahkan belajar budaya indonesia. Mereka bekerja di Indonesia bukan di sektor skill. Tapi malah ada yang cuma jadi supir taksi. Sepintas ini kelihatan sepele. Tapi sebenarnya serius," katanya. 

Masyarakat Siak kata Syamsuar musti siap dengan skillnya kalau mau menghadapi situasi semacam ini. "Di sini, peran LAM sangat dibutuhkan. Yuk dorong anak kemanakan kita untuk menjadi pekerja keras. Jangan lagi larut dengan kejayaan masa lalu. Sebab itu sudah berlalu," Syamsuar mengingatkan. 

Pemkab Siak sendiri kata Syamsuar sudah membikin garam cara untuk menghadapi MEA tadi. Yang paling sederhana adalah menggandeng salah satu perusahaan industri besar di Riau untuk membikin pelatihan bagi guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 

"Kerjasama ini bukan bertujuan supaya anak-anak SMK atau guru-guru itu bisa bekerja di sana. Tapi justru biar mereka tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh perusahaan industri sekarang ini. Kalau kita sudah tahu, tentu kita bisa melakukan persiapan," ujarnya. 

Dan yang paling penting kata Syamsuar, biar guru-guru bisa lebih kreatif saat mengajar. Tidak hanya sekadar menghabiskan jam kurikulum. "Kalau cuma menghabiskan jam kurikulum, alamat kiamatlah kita," katanya. 

Syamsuar juga mengingatkan generasi muda Siak soal pentingnya menjaga budaya melayu. "Orang luar saja mau belajar budaya melayu. Kalau sempat pula orang melayu ndak mau berbudaya melayu, alamat akan karamlah kita," Syamsuar mengingatkan. 

Masih banyak kerisauan yang dilontarkan Syamsuar di acara itu. Termasuk mengajak LAM untuk sama-sama mengingatkan anak kemanakan saat maghrib untuk tidak lagi berleha di luar. 

"Jadi, saya sangat berharap peran LAM untuk bersama pemerintah membikin terobosan demi mempertahankan dan menjaga kemelayuan tadi," pintanya. 

Ketua Umum LAMR Kabupaten Siak, Wan Anwar, mengamini apa yang menjadi kerisauan Syamsuar tadi. Dia pun langsung menegaskan kalau LAM Kabupaten Siak akan lebih getol lagi menjalankan program-program yang ada di LAM. 

Selain membikin sederet pelatihan tentang adat istiadat melayu, LAM kata Wan juga akan masuk ke sekolah-sekolah. Mereka akan menebar apa itu adat istiadat melayu. 

"Tahun ini bakal kami jalankan. Termasuk juga menyusun hukum adat untuk hal-hal tertentu. Ini sedang kami himpun bersama semua LAM yang ada di kecamatan," katanya. 
Baca selengkapnya

Lihat Geliat Wisata Siak,Tak Perlu Lagi ke Seine atau Liong Prancis



Siak - Tak lama lagi Anda tak perlu jauh-jauh datang Sungai Seine di Paris, Prancis, demi menikmati keindahan Jardin Tino Rossi Garden. Taman mungil yang membentang sekitar 600 meter di tepian Sungai Seine itu.  

Sebab tahun ini Pemkab Siak akan membangun turap indah sepanjang 471 meter lebih. Turap ini akan melengkapi turap yang sudah dibangun sebelumnya sepanjang 400 meter di kawasan kampung dalam hingga pasar lama.

Jika semuanya sudah rampung, Anda bakal bisa jalan santai menikmati alam dari kawasan Kampung Dalam di bagian Timur, tadi sampai ke Masjid Syahabuddin di bagian Barat, dipastikan kawasan indah bakal lebih indah dari Jardin Tino Rossi Garden tadi. 

Alasannya begini; turap yang 471 meter tadi dibagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah Plaza utama berbentuk lingkaran dengan diameter 82,64 meter. Plaza ini dibikin lebih tinggi 60 sentimeter dari permukaan jalur pedestrian. Biar orang lebih leluasa memandang.   

Bagian dua, jalur pedestrian yang terhubung langsung ke turap yang 400 meter tadi. Lebarnya dibikin hingga 12 meter. Biar orang lebih leluasa pula melakukan aktifitas. 

Dari sambungan ujung turap yang 400 meter tadi, jalur pedestrian ini memanjang hingga ke Suak Masjid Syahabuddin sejauh 235,55 meter. 

Di bagian tiga bakal ada tugu peringatan peristiwa bersejarah, sebagai tanda bersatunya Kerajaan Siak dengan NKRI.    

Bagian empat bakal ada mini plaza untuk tempat transit orang dari pedestrian dari arah timur maupun barat. Mini plaza ini dilengkapi jembatan klasik sepanjang 10,5 meter dan lebar 5 meter. 

Disitu juga dibikin gardu pandang berdiamater 20 meter dan tinggi 7 meter. Terus dekat gardu pandang ini juga dibikin floating dock sepanjang 40 meter dan lebar 4 meter.Terakhir dibagian lima, ada information center, pos jaga dan toilet. 

Nah, biar semua rencana ini berjalan lancar, tadi sore Bupati Siak Syamsuar membahas ini dengan sejumlah pemangku kepentingan di Zamrud Room, komplek rumah dinas Bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura. Dia ditemani Wakil Bupati Siak, Alfedri.

Di sana ada juga sejumlah kepala SKPD dan tokoh masyarakat Siak. Mulai dari OK Nijami Jamil, Wan Abu Bakar, Zulkifli dan yang lain. 

Syamsuar sengaja membahas rencana itu dengan para tokoh tadi biar tak ada pantang larang yang dilanggar. Maklum, semua ornamen yang mau dibikin di turap berbiaya total Rp40 miliar tadi sangat berkaitan dengan Kerajaan Siak dan Budaya Melayu. Alhasil para tokoh tadi bersemangat memberikan masukan. 

Sejak jadi bupati, Syamsuar tak hanya konsen untuk memperlancar akses antar kampung, mendongkrak ekonomi masyarakat maupun memberikan pelayanan prima di pemerintahan lewat birokrasi yang sudah ditata apik. Tapi dia juga serius mengurusi soal kebudayaan maupun potensi wisata yang ada di Siak. Makanya tahun 2013 lalu dia sudah membikin grand disain soal pengembangan kebudayaan itu.  

Kawasan Relaksasi

Kalau Anda datang ke Kabupaten Siak dari Pekanbaru, Anda tentu bakal singgah dulu di makam Putri Kacamayang di kawasan Kecamatan Gasib. Makam ini hanya berjarak 10 kilometer dari jalan lintas Perawang-Siak. 

Habis itu, Anda tentu bakal ke makam Tengku Buang Asmara dan Tangsi Belanda di kawasan Mempura sebelum kemudian menikmati indahnya jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah saat akan melintas ke kota Siak. 

Sampai di kota, Anda tinggal pilih, mau ke makam Sultan Syarif Kasim II, Balai Kerapatan dan Masjid Syahabuddin dulu, atau langsung ke Istana Matahari Timur, komplek makam Koto Tinggi dan gudang mesiu? 

Kolam Hijau dan makam Raja Kecik di Buantan juga tentu tak akan ketinggalan. Habis itu, sudah bisa dipastikan Anda bakal mencari tempat rehat sembari memandang tepian Sungai Siak. 

Untuk yang semacam inilah Pemkab Siak membangun semua tadi. Duduklah Anda pada malam di sana. Jembatan di mempura dan jembatan Tengku Agung Sultana Latifah akan nampak indah. Belum lagi kawasan tepian Mempura yang memang berseberangan langsung dengan tempat Anda rehat itu. Anda juga bakal menikmati indahnya air mancur di taman Mahratu sembari mencicipi kuliner khas Siak.



Baca selengkapnya

Most Recent

Blue Fire Pointer

Facebook

Advertising

Disqus Shortname

Comments system