Tampilkan postingan dengan label karlahut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karlahut. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Syamsuar: Jangan Cuma Pandai Memakai Duit Yang Ada


Siak – Wajah Bupati Siak, Syamsuar, nampak sangat serius saat akan membuka Forum Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) di ruang pertemuan Raja Indra Pahlawan di lantai dua Kantor Bupati Siak, Rabu (16/3).

Selain semua kepala SKPD dan camat, Ketua DPRD Siak, Indra Gunawan dan Wakil Ketua DPRD Siak Hendri Pangaribuan juga ada di sana.

Banyak hal yang dia tegasi kepada semua anak buahnya itu. Mulai dari soal anggaran, hingga ke Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Yang paling dia tegasi, para kepala SKPD tidak cuma bisa kreatif membikin dan menjalankan program. Tapi mencari duit untuk membiayai program tadi justru harus lebih kretaif.

Banyak duit yang bisa ditarik dari provinsi maupun pusat. Belum lagi kalangan swasta juga bisa. “Jangan cuma bisa mengandalkan duit yang ada di APBD Siak. Cari duit keluar. Saya baru mengatakan saudara hebat kalau saudara kreatif mencari pembiayaan. Kalau tak bisa cari duit, terjun ke Sungai Siak sajalah,” kata Syamsuar setengah bercanda.

Bukan lantaran Dana Bagi Hasil (DBH) yang berkurang saja yang membikin Syamsuar  menggeber semangat para anak buahnya itu. Tapi sudah sejak lama. Bahwa seorang kepala SKPD musti bisa mencocokan kegiatannya dengan apa yang menjadi rencana di provinsi maupun pusat biar anggaran bisa mengocor ke daerah.

“Dana bagi hasil sudah jauh berkurang. Saya minta kepada saudara untuk sangat berhati-hati menggunakan anggaran yang ada. Pakailah duit itu secara efektif, efisien dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Bikinlah kegiatan yang benar-benar bermanfaat, punya sasaran yang jelas dan cocok dengan visi jangka menangah dan panjang,” pintanya.

Bagi yang minta dinaikkan pagu anggaran, Syamsuar juga minta supaya kepala SKPD bisa menjelaskan secara detil, kenaikan pagu itu untuk apa. Jelas ndak outcomenya.

Selain itu, Syamsuar juga mengingatkan para kepala SKPD untuk tetap membikin program terhadap sekolah menengah dan atas, listrik desa serta kehutanan meski kewenangan ini sudah diambil oleh provinsi.

Biar semua program bisa jalan, Syamsuar minta supaya para kepala SKPD keroyokan. “Jangan kerja sendiri-sendiri,” katanya.

Soal ancaman kebakaran lahan dan hutan, giliran camat yang diingatkan. “Sampai bulan besok cuaca masih sangat panas terus. Tolong dipantau terus potensi-potensi yang akan memicu kebakaran lahan dan hutan. Di situ mendengar ada kejadian, langsung turun. Jangan dibiarkan membesar dan jangan suruh orang ke sana. Tapi saudara sendiri harus turun,” tegasnya.

Lantaran Pekan Imunisasi Nasional (PIN) masih jalan, Syamsuar juga minta supaya semua petugas medis turun hingga ke kampung-kampung. Datangi rumah-rumah mereka. Kasihan jika sampai ada bayi yang tak kebagian imunisasi. Anggap saja ini ibadah, biar semangat terus,” katanya. (hms)

Baca selengkapnya

Senin, 14 Maret 2016

Energi Baru Dari Gedung Manggala





Kehadiran BRG membikin Siak makin semangat menyelamatkan gambut.

Siak - Rapat Koordinasi (Rakor) Restorasi Gambut dan Pencegahan Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) di Auditorium Manggala Wanabhakti Jakarta hari ini (14/3) menjadi energi tambahan bagi Pemkab Siak untuk menyelamatkan kawasan gambut yang ada di bumi 'Negeri Istana' itu.

Sebab bukan tidak ketulungan cemasnya Pemkab Siak menengok kondisi gambut yang ada di kawasan Semenanjung Kampar, kawasan Cagar Biosfer dan kawasan Danau Zamrud. Baik yang masih utuh maupun yang sudah rusak parah. 

"Kita punya lahan gambut 57,44 persen dari total luas wilayah Kabupaten Siak yang mencapai 8.556,09 kilometer persegi.Ketebalannya mencapai antara 3-15 meter. Kalau ini tidak kita selamatkan, saya ndak tahu seperti apa kelak Siak 50-100 tahun mendatang," kata Wakil Bupati Siak, Alfedri, usai mengikuti rapat itu. 
 
Gara-gara demi penyelamatan kawasan gambutlah kata Alfedri, Pemkab Siak sangat konsen menghadirkan tim penanggulangan kebakaran lahan dan hutan. "Kita sudah siapkan tim reaksi cepat. Harapan kita ya itu tadi, lahan bisa lebih cepat terselamatkan. Sekarang sudah ada kekuatan baru dari pusat. Ini tentu sangat membantu misi kita. Apalagi Bupati sudah mencanangkan Siak menjadi Kabupaten Hijau," ujarnya.  
 
Di rapat yang juga dhadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono itu kata Alfedri, banyak hal yang dibahas, khususnya tentang dukungan terhadap Badan Restorasi Gambut (BRG) yang sudah ada berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016.

Tugas lembaga baru yang dikomandani oleh Nazir Foead ini adalah mengkoordinasikan dan memfasilitasi restorasi gambut di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat,  Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Adapun target pemulihan gambut hingga lima tahun ke depan mencapai 2 juta hektar.

Alfedri makin bersemangat soal penyelamatan gambut di Siak lantaran Plt Gubernur Riau langsung mengatakan siap bekerja bersama dengan Bupati/Walikota soal penyelamatan gambut tadi.
Baca selengkapnya

Kamis, 11 Februari 2016

Bupati Siak Ekspos Penanganan Karlahut



Selama lima hari ke depan, ada 70 orang masyarakat dari tujuh desa yang ada di Kabupaten Siak mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) Berbasis Masyarakat di Aula Pinus Balai Diklat Kehutanan Provinsi Riau, di Pekanbaru, Rabu (10/2) kemarin. Mereka berbaur dengan utusan Indragiri Hilir dan Kampar yang masing-masing 10 orang.
Bupati Siak, Syamsuar, jadi salah satu pembicara di Diklat yang ditaja oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB itu.
Dia mengaku sangat senang Diklat itu digelar. Sebab bakal semakin banyak pengalaman dan ilmu yang didapat oleh warganya. “Sudah 18 tahun Riau selalu didera oleh bencana asap. Ini sangat berdampak bagi manusia dan lingkungan. Manusia kena penyakit, lingkungan rusak. Lantaran itu, penanganan, penanggulangan Karlahut musti jadi tugas kita bersama. Ndak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat,” katanya usai pembukaan Diklat itu, kemarin.
Di Siak kata Syamsuar, penanganan Karlahut musti lebih baik lagi. Tak berlebihan jika Syamsuar mengatakan seperti itu. Sebab sejak tahun 2014, Pemkab Siak sudah membikin sederet terobosan soal penanganan Karlahut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak, Wan Abdul Razak, merinci bahwa Pemkab Siak sudah memetakan mana-mana saja desa di Siak yang berpotensi Karlahut. Hasilnya, ada 71 desa di 14 kecamatan yang ada, berpotensi Karlahut.
Lima orang di tiap desa tadi kemudian dididik untuk penanganan dini Karlahut. Biar kerja mereka berjalan lancar, tiap desa dikasi biaya operasional Rp2 juta perbulan. “Jadi info dini soal potensi Karlahut, kita dapat dari mereka,” katanya.

Selain biaya operasional, tim di masing-masing desa ini juga dibekali peralatan seperti mesin pompa air, slang dan nozzle (penyemprot).

Apa yang sudah dilakukan oleh Pemkab Siak ini rupanya dipantau juga oleh Kementerian Dalam Negeri. Alhasil, tahun lalu Pemkab Siak diganjar sebagai daerah terbaik satu se-Indonesia soal penanganan Karlahut.

Di hari Pemadaman Kebakaran yang digelar di Kalimantan Selatan pada tahun lalu, Pemkab Siak kata Wan juga dapat menghargaan. “Bupati Siak didaulat menjadi narasumber di acara itu,” ujarnya.
Meski sudah melakukan banyak hal soal penanganan Karlahut tadi, Syamsuar masih berharap supaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mau membikin blocking canal di sejumlah titik yang ada di Siak. Khususnya di kawasan yang rentan terhadap Karlahut. Penertiban kawasan Cagar Biosfer juga menjadi teramat penting campur tangan pemerintah pusat. (hms)

Baca selengkapnya

Most Recent

Blue Fire Pointer

Facebook

Advertising

Disqus Shortname

Comments system