Rabu, 24 Februari 2016

Cara Siak Kurangi Sampah



Siak - Bupati Siak, Syamsuar, mendadak datang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kawasan Buantan Rabu (24/02). Dia ditemani Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Irving Kahar serta Kadis Pasar Kebersihan dan Pertamanan (PKP).

Di lahan seluas 4 hektar itu Syamsuar melongok satu persatu aktifitas di sana. Mulai dari pemilahan sampah-sampah organik dan an organik hingga penimbangan sampah yang baru masuk ke komplek yang dijejali 10 ton sampah per hari itu. Sampah-sampah yang berasal dari kawasan Sabak Auh, Bunga Raya, Sungai Apit dan sekitarnya serta Kota Siak Sri Indrapura.  

Kedatangan Syamsuar ke TPA tadi adalah bagian dari keinginan dan misi Pemkab Siak untuk menjadikan “Negeri Istana’ menjadi Kabupaten Hijau. Termasuk oleh misi Siak yang menjadi destinasi wisata di Provinsi Riau. “Siak jadi destinasi wisata, kalau ndak bersih kan ndak elok,”
katanya.

Tak hanya sekadar bersih, Syamsuar ingin volume sampah yang masuk ke TPA makin hari makin berkurang. Caranya, pemkab akan lebih gencar sosialisasi kepada masyarakat dan komplek perumahan pemerintah untuk memilah sampah lebih dahulu, sebelum ditaruh di penumpukan sementara.

Sebab sebahagian sampah itu bisa jadi duit. Misalnya plastik, kardus dan botol plastik. Bank sampah yang sudah sejak tiga tahun lalu beroperasi di dekat Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Siak di kawasan jalan Panglima Undan komplek perkantoran Sungai Betung. “Sampai sekarang nasabahnya sudah mencapai 200 orang,” terang Kadis Pasar, Wan Ibrahim.

Terus, sampah-sampah yang ada di TPA juga didaur ulang. Ada yang jadi biji plastik, ada pula yang dibikin hiasan. Yang layak jadi biogas, didaur jadi biogas. Makanya Syamsuar bilang sangat memungkin ada tempat pembuatan biogas di TPA Parit Baru maupun TPA di Perawang yang kedatangan sekitar 16 ton sampah tiap hari. “Saya ingin TPA yang ada ditata. Biar kelihatan bersih. TPA juga bisa jadi tempat wisata kalau penataannya bagus,” ujar Syamsuar.

Biar misi tadi tercapai, Syamsuar sangat berharap peran aktif masyarakat. Sebab tanpa itu semua, misi pemerintah tak akan tercapai. “Saya berharap masyarakat semakin cinta dengan daerah ini, cinta lingkungan, biar misi daerah ini tercapai; menjadi kabupaten hijau dan destinasi wisata yang selalu dirindukan orang. Kebersamaan sangat penting untuk mencapai tujuan mulia ini,” Syamsuar berharap.
Sampai sekarang kata Wan, ada 5 dump truk, 3 amrul dan 4 pick up yang saban hari mengantar sampah ke TPA tadi. 

Sebelumnya, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, Nedik Tri Nurcahyo,  mengatakan kalau Siak sangat layak menjadi Kota Pusaka dan destinasi wisata yang mumpuni. Sebab Siak punya sederet peninggalan sejarah yang lengkap. Mulai dari istana, tangsi belanda, makam bersejarah dan sederet peninggalan lain. “Tata kotanya juga indah,” katanya.

Siak juga dikelilingi hutan alam yang masih sangat bagus. Ada kawasan Cagar Biosfer, kawasan Danau Zamrud, kawasan Semenanjung Kampar dan Taman Hutan Rakyat. Soal kawasan hutan ini lah makanya baru-baru ini Syamsuar mengajak sejumlah pegiat lingkungan diskusi, gimana caranya supaya hutan yang ada bisa lestari dan bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. (hms)
Baca selengkapnya

Jumat, 19 Februari 2016

Berharap Siak Negeri Barokah




Semangat Syamsuar Syiar Agama
Berharap Siak Negeri Barokah
Siak - Urusan tugas negara, kemampuan Syamsuar dan Alfedri tak diragukan lagi. Hampir semua lini yang dikerjakan oleh Bupati dan Wakil Bupati Siak ini selalu mendapat reward. Tak kurang dari 140 penghargaan didapat dalam kurun waktu empat tahun belakangan. Ada yang dari pemerintah provinsi dan banyak pula dari Pemerintah Pusat.
Tapi urusan tugas akhirat, keduanya masih gamang. Sebab sebagai pemimpin yang  beragama islam, ada sederet persoalan pada masyarakat melayu islam, khususnya di Siak, yang musti mereka runut, biar on the track lagi.
Setidaknya, mendekati apa yang pernah terjadi pada masa silam. Pada masa para Sultan memimpin Siak. Pada masa aqidah menjadi rambu keseharian. Pada masa suluh mengantar tetua dan yang muda menjejali langgar.
Pada masa prosedur dan ketetapan (protap) akad pernikahan menjadi ritual yang sakral dan pada masa ghatib beghanyut, khatam Quran, berzanji menjadi kebutuhan rutin. “Dulu orang tua sangat malu apabila anaknya tidak khatam Quran saat akan menikah. Ini semua menjadi beban moral kami di masa sekarang,” Syamsuar mulai buka-bukaan jelang meresmikan masjid Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah di kawasan jalan Padat Karya Kampung Benteng Hilir Kecamatan Mempura, jelang siang tadi. Dia didapuk berdiri di podium yang disiapkan panitia.
Masjid Sultan Ismail berkapasitas 800 orang itu adalah masjid besar kedua yang diresmikan oleh Syamsuar sepekan belakangan. Masjid Sultan Ismail yang berornamen benteng itu seluas 1015 meter persegi. Berdiri di atas lahan hasil wakaf masyarakat setempat, seluas 5.200 meter persegi.
Empat qubah bertengger di bagian atas. Di sisi depan, kanan, kiri dan tengah. Qubah terakhir menjadi qubah yang paling besar. Berdiameter sekitar 8 meter. Bangunan tempat wudhu di sisi kiri masjid menjadi pelengkap.
Sehari sebelumnya Syamsuar meresmikan masjid Abdul Djalil Rachmad Syah di Kecamatan Lubuk Dalam. Sama seperti di masjid Sultan Ismail itu, Syamsuar juga menumpahkan unek-uneknya soal keadaan melayu islam sekarang.
Keadaan yang tak hanya terjadi di Siak, tapi juga di zajirah melayu yang ada di Riau. Banyak orang risau lantaran sudah kehilangan melayu islam di daerahnya. “Makanya sekarang, satu-satunya yang diharapkan adalah Siak. Siak bisa menjadi daerah melayu islam. Harapan ini jugalah yang membikin kami keukeuh melakukan banyak hal demi tegaknya syariah,” ujar Syamsuar.   
Bahwa pembangunan masjid di semua kecamatan dan bahkan di kampung kata lelaki 61 tahun ini adalah bagian dari pengembalian kegemilangan melayu islam di masa lalu. Sebab di masjid, banyak ilmu yang bisa dikorek. Banyak obat mujarab yang bisa didapat. “Sejak lama masjid sudah menyodorkan manajemen keuangan yang transparan. Tiap minggu, bahkan tiap hari selalu ada laporan keuangan," katanya.
Masjid juga menjadi tempat yang ampuh untuk menghadirkan ketenangan jiwa, mempererat silaturrahim. “Kalau jiwa sudah tenang dan silaturrahim berjalan, ini sudah jadi modal besar bagi kita untuk membangun negeri ini,” Syamsuar meyakinkan.  
Berharap Menjadi Gerakan
Adalah makam Syeh Abdurrahman di kampung Rempak Siak Sri Indrapura yang belum lama ini diziarahi oleh Dahlan Iskan, mantan menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).  
Di Mempura, ada pula jalan Indragiri yang sejak lama tak boleh diganti. Sebab jalan itu punya cerita tersendiri pada perjalanan Siak di masa lalu. Bahwa dulu ada syeh dari Indragiri yang datang ke Siak layaknya Syeh Abdurrahman dari tanah jawa. Syeh Abdurahman dan syeh dari Indragiri ini menjadi bagian dari banyaknya orang-orang soleh di Siak.
  
Syamsuar kemudian menceritakan seperti apa Syeh Burhanuddin yang selalu membawa payung saat akan sholat ke masjid Syahabuddin yang ada di seberang Istana. “Tuan Syeh selalu bawa payung. Tapi bukan untuk jaga-jaga kalau kemudian turun hujan. Tapi untuk penutup saat dia berpapasan dengan perempuan. Dia tak ingin melihat perempuan itu,” katanya.
Dan suatu saat, kala Tuan Syeh tak sholat ke masjid Syahabuddin, adalah orang tergopoh-gopoh datang ke rumah tuan syeh. Orang ini melapor kalau anak tuan syeh nyebur ke sungai. Tuan syeh tidak langsung panik. Malah dia bilang,” Iyalah. Saya sholat dulu. Habis sholat, tuan syeh baru datang ke sungai dan menolong anaknya yang ternyata sehat walafiat,” Syamsuar cerita.
Soal tuan syeh yang dari Indragiri, sangking sholehnya, tubuh syeh ini tak basah saat diguyur hujan. “Saya menceritakan ini sebagai gambaran saja betapa indahnya kehidupan beragama di masa silam. Nah sekarang, sayang kalau masa lalu yang indah itu berubah jelek,” kata Syamsuar.
Demi masa lalu yang indah itulah kemudian Syamsuar mengajak semua masyarakat untuk menjadi lebih baik. “Caranya ya berpeganglah pada Quran, hidupkan Tahfis dan majelis taklim. Sungguh, saya sangat berharap dalam hidup, ada peningkatan ibadah. Pedulilah pada quran dan negeri. Biar jadi barokah,” katanya.  
Khusus soal majelis taklim kata Syamsuar, bapak-bapak dan ibu-ibu tidak hanya menjadi bagian dari syiar islam itu. Tapi juga akan menjadi corong pemerintah untuk menyampaikan kabar terbaru. “Peliharalah masjid, biar kita termasuk orang yang ikut membangun masjid di surga jannatunnaim,” pintanya.
Syamsuar juga minta supaya tradisi islami masa silam dihidupkan kembali. Mulai dari ghatib beghanyut, ritual sakral akad nikah, khatam quran dan sederet tradisi lain. “Yuk kita jadikan ini menjadi sebuah gerakan bersama. Sebab tanpa andil masyarakat, semua ini tak akan bisa jalan. Sebagai orang tua, marilah kita menjadi pelopor kebaikan di rumah tangga masing-masing,” pintanya.
Kepada sekolah-sekolah yang ada di Siak, Syamsuar juga berharap supaya mengarahkan anak-anak untuk senang dengan sejarah keislaman masa silam. Soal agama, sekolah negeri jangan malu belajar ke ibtidaiyah. Sebab di ibtidaiyah tak ada yang berubah.
Lantas, walau Siak sudah digesah menjadi destinasi wisata kata Syamsuar, pembangunan masyarakat agamis tetap yang paling utama. “Sebab soal wisata pun, kami membikin sesuai agama. Jadi jangan heran kalau karaoke keluarga tak boleh ada di Siak. Termasuk organisasi-organisasi yang justru lebih banyak mudoratnya. Saya berharap masyarakat Siak tidak gampang tergiur untuk masuk organisasi. Tidak gampang tergiur dengan baju seragam dan iming-iming lain,” pintanya.
Apa-apa yang dikatakan Syamsuar tadi, sebenarnya juga dia sampaikan kepada puluhan ustadz yang sengaja dia undang pengajian di kediaman bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik. Tiap malam jumat pekan terakhir kata Syamsuar, pengajian dan diskusi bakal rutin dilakukan. Syamsuar akan giliran mengundang ustadz-ustadz dari semua kecamatan.
Satu hal yang penting lagi kata Syamsuar, sejak lama Siak sudah dihuni oleh masyarakat yang heterogen. Gerakan mengembalikan kejayaan melayu islam di masa silam tidak akan menjadi ganjalan bagi umat beragama lain. Sebab kata Syamsuar, di agama manapun tak akan pernah ada ajaran membangunan permusuhan.  

Baca selengkapnya

Selasa, 16 Februari 2016

Tahniah dan Doa Dari ‘Negeri Istana’



Terhitung mulai hari ini, ada empat pasang kepala daerah yang akan segera menjalankan amanah rakyat. Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti serta Walikota dan Wakil Walikota Dumai.

Tiga dari pasangan kepala daerah ini masih serumpun dengan Kabupaten Siak. Sebab berasal dari kabupaten induk yang sama, Kabupaten Bengkalis. Dimana Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis terpilih sendiri juga menjadi bagian dari pasangan yang segera menjalankan amanah itu.

Selaku rekan sejawat dan saudara serumpun, Bupati Syamsuar yang didampingi sang istri Hj Misnarni Syamsuar, bercerita bahwa momen ini sangat berarti bagi Kabupaten Siak yang berjuluk negeri istana.

"Kelak, akan banyak hal yang bisa kita diskusikan, kita kerjasamakan, demi mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan selaksa kebhinekaan potensi di daerah kita masing-masing" Kata Syamsuar usai menghadiri acara Pelantikan empat kepala daerah di Balai Serindit Kediaman Gubri (17/02).

Begitu juga dengan Kabupaten Indragiri Hulu kata Syamsuar. Ada banyak kesamaan potensi daerah yang bisa dikerjasamakan. "Khususnya potensi pariwisata peninggalan sejarah yang sama-sama kita punya" lanjutnya.

Sebagai daerah yang mengusung semangat Siak The Truly Malay, Datuk Setia Amanah ini menyimpan keyakinan, bahwa tiap daerah punya tujuan yang sama. Yaitu sama-sama berusaha untuk memajukan daerah dan mensejahterakan rakyat.

"Untuk itu saya Bupati Siak Syamsuar dan Wakil Bupati Siak Alfedri, bersama seluruh masyarakat Kabupaten Siak mengucapkan Tahniah. Doa kami, kiranya Allah SWT selalu mengawal langkah kita, hari-hari kita dalam menjalankan amanah itu, demi satu tujuan; memajukan daerah demi terwujudnya masyarakat yang agamis dan sejahtera" tutupnya.

Baca selengkapnya

Jumat, 12 Februari 2016

Menata Pusaka Negeri Istana



 
Siak punya modal besar untuk menjadi cagar budaya nasional dan kota pusaka. 

Lepas menemani Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, Nurmatias, Bupati Siak, Syamsuar, langsung  menggelar rapat bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Siak di Zamrud Room, komplek kediaman Bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.
 
Mulai dari Wakil Bupati Siak Alfedri, Sekda Siak Tengku Said Hamzah, Kadis Cipta Karya Irving Kahar, Ketua Bappeda Yan Prana, Kadis Pariwisata Hendrisan, serta sejumlah pejabat lain ikut duduk di ruangan itu.
 
Hasil obrolan Syamsuar dan Nurmatias sambil menengok sederet peninggalan sejarah di Siak yang kemudian dibuka lelaki 62 tahun ini di sana. Intinya, bahwa 14 situs bersejarah yang ada di Siak musti didaftar ulang, meski sebenarnya situs itu sudah pernah terdaftar.
 
Amanah undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang membikin Syamsuar harus ekstra kerja keras. “Untuk mendaftarkan ulang situs tadi kita musti membentuk tim cagar budaya daerah. Tim ini berjumlah 5 sampai 7 orang. Kalau 7 orang, 3 orang dari unsur pemerintah, sisanya tokoh dan para ahli,” kata Syamsuar.
 
Tim ini musti lolos assessment dulu. Assessor untuk tim ini adalah tim khusus bentukan kementerian. “Makanya saya minta Sekda mencari orang-orang yang layak untuk mengikuti assessment ini,” pinta Syamsuar. “Siapkan saja 10 orang,” tambahnya.
 
Ada dua penyebab utama yang membikin Syamsuar bergerak cepat. Pertama dia sudah membikin Grand Disain (GD) Pengembangan Kebudayaan Melayu di Siak. Lewat GD ini, dia ingin menunjukkan kalau Siak adalah melayu sebenarnya; Siak The Truly Malay. Siak menjadi pusat kebudayaan melayu di Nusantara.
 
Banyak yang musti dikerjakan Syamsuar untuk mewujudkan misi ini. Mulai dari mengumpulkan semua fakta dan peninggalan sejarah Kerajaan Siak yang pernah mashyur di pesisir timur Sumatera, menata kembali tradisi budaya yang pernah ada, musti dia jabani.
 
Nanti, hasil dari semua ini akan disandingkan Syamsuar dengan kekayaan peninggalan sejarah dan eksotika alam yang masih sangat terjaga.  Sebab Syamsuar dan semua pemangku kepentingan di Siak sudah sepaham bahwa ‘Negeri Istana’ musti bisa menjadi destinasi wisata alam dan budaya di Indonesia.  
 
Sebab modal untuk ini sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tengoklah peninggalan sejarah luar biasa bernama Istana Matahari Timur atau Istana Asserayah Hasyimiah yang masih berdiri kokoh di pusat Kota Siak Sri Indrapura. Ada sederet peninggalan unik yang tak akan pernah bisa ditemukan wisatawan di daerah bahkan negara lain.
 
Masih di kota itu, ada gudang mesiu, balai kerapatan tinggi, makam para raja, klenteng dan gereja tua serta pasar lama. Agak ke ke Barat, ada pula makam pendiri kerajaan Siak, Raja Kecik, kolam hijau di dekat suak gelanggang. Di timur ada pula makam putri kaca mayang.
 
Bibir sungai Siak, dari ujung kampung dalam hingga ke pasar lama sejauh 400 meter, sudah disulap menjadi kawasan pedestrian dan taman yang unik. Tahun ini, panjang itu ditambah hingga ke belakang masjid Syahabuddin di bagian timur. Di penambahan sepanjang hampir 500 meter ini, bakal ada taman, pedestrian dan monumen. Jika ini sudah rampung semua, banyak orang bilang bakal mengalahkan kawasan Lyon atau Seine di Prancis.
 
Lantas di seberang kota, persis di kecamatan Mempura, ada tangsi Belanda lengkap dengan ruang controleur, serta makam raja.  Lalu ada pula sederet objek wisata alam seperti Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.
 
Danau tujuh tingkat di Sungai Mandau dan Pantai Tanjung Layang di Kecamatan Sungai Apit, melengkapi itu semua. Belum lagi sumur minyak bersejarah dan Pusat Pelatihan Gajah di Kecamatan Minas.
 
Soal peninggalan sejarah Kerajaan Siak yang masih berserakan di luar Siak, seperti di Pekanbaru, Singapura, Sumatera Utara, Malaysia dan tempat lain, bakal dibikin peta komplitnya. Jadi, orang yang mau tahu tentang Siak yang sebenarnya, bisa berselancar lewat petunjuk lengkap yang ada di peta itu.
 
Lantaran komplitnya peninggalan sejarah yang ada di Kecamatan Siak Sri Indrapura dan Kecamatan Mempura, Pemkab Siak pun mengusulkan dua kawasan ini sebagai Kota Pusaka (Heritage City) ke Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Zonasi dua kawasan ini bakal dibikin. Sebab kelak, ada aturan main yang bakal berlaku di sini.
 
Jika sudah menjadi kota pusaka, maka Siak akan sejajar dengan  Kota tua Jakarta, Semarang, Sawah Lunto, Palembang, Bogor, Yogyakarta, Karangasem, Denpasar, Banjar Masin, Bau-bau, Banda Aceh dan Trowulan, yang sudah lebih dulu menjadi National Heritage.
 
Bagi Nedik Tri Nurcahyo, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, apa yang diinginkan oleh Pemkab Siak sangat bisa terwujud. Baik itu sebagai cagar budaya nasional, maupun Kota Pusaka. Sebab itu tadi, Siak punya banyak hal yang tak dimiliki oleh daerah lain. Salah satu yang sangat menonjol adalah istana dan adat istiadat melayu yang kental. Ini diwarnai pula dengan akulturasi budaya yang bagus antara Cina dan pribumi.
 
Keberagaman kata magister pengelolaan sumber daya budaya jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, menjadi sebuah kekuatan besar di Siak. “Akulturasi tadi menghasilkan kondisi seperti sekarang, luar biasa. Kelihatan sekali bahwa Raja Siak tidak menutup mata dengan bangsa lain. Dia justru welcome. Secara keilmuan dan secara pribadi saya kagum dengan Siak. Orang dulu membangun hubungan tak melihat dari sisi agamanya. Mereka malah berbaur. Di daerah lain banyak yang alergi rumah ibadah berdekatan. Di Siak justru tidak ada sama sekali,” katanya.
 
Untuk menjadi cagar budaya nasional misalnya, lelaki 47 tahun ini menyarankan supaya istana menjadi semacam komplek. “Artinya, istana satu komplek dengan masjid Syahabuddin, Balai Kerapatan, makam dan pasar lama. Ini menjadi satu kesatuan sejarah kolektif,” katanya di Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.
 
Lalu untuk menjadi Kota Pusaka, ayah tiga anak ini menyebut kalau Siak punya banyak hal yang bisa diandalkan. Tata letak perkantoran, jembatan yang super megah, kekunoan masa lalu dan hutan tua di tengah kota,  menjadi sesuatu yang sangat eksotis bagi wisatawan kelak.
 
Penempatan bangunan-bangunan Belanda di seberang sungai yang berhadapan dengan Istana Siak juga kata Nedik sangat menarik. “Di lihat dari tata ruang, sultan kayaknya sudah mengkondisikan. Bahwa di antara keduanya sama-sama saling mengawasi tapi tak ada konfrontasi. Ini sama kayak di Yogya. Di seberang keraton ada benteng Belanda. Yang kayak gini ini kan unik,” katanya.
 
Nedik mengingatkan, bahwa pusaka itu tak harus spesifik. Bisa kekunoan yang sangat penting bagi masyarakat, bisa pusaka alam, budaya atau saujana budaya (perpaduan antara alam dan budaya). Yang paling penting itu kata Nedik, semua pemangku kepentingan musti ngumpul dulu untuk menentukan apa yang bakal dimasukkan dalam Kota Pusaka itu.
 
Pusaka apa saja yang bakal ditonjolkan dan menjadi beda dengan daerah lain.  “Dan harus disepakati juga bahwa kelak pusaka itu tak akan hilang. Sebab kalau hilang, tidak pusaka lagi namanya,” ujar Nedik.
 
Sejak sekarang menjadi cagar budaya dan kota Pusaka kata Nedik, akan membikin Siak semakin kemilau di masa depan. Dan semua itu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Daya tarik lebih yang dimiliki Siak, sudah mendatangkan devisa dari kunjungan wisatawan yang semakin melimpah.
 
“Ini pulalah bedanya Siak dengan daerah lain. Sebelum benar-benar menjadi kota besar, Siak sudah menata daerahnya. Banyak daerah di dunia yang setelah maju dulu baru terseok-seok mencari jati dirinya. Asal usulnya,” ujar Nedik
Baca selengkapnya

Kamis, 11 Februari 2016

Bupati Siak Ekspos Penanganan Karlahut



Selama lima hari ke depan, ada 70 orang masyarakat dari tujuh desa yang ada di Kabupaten Siak mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) Berbasis Masyarakat di Aula Pinus Balai Diklat Kehutanan Provinsi Riau, di Pekanbaru, Rabu (10/2) kemarin. Mereka berbaur dengan utusan Indragiri Hilir dan Kampar yang masing-masing 10 orang.
Bupati Siak, Syamsuar, jadi salah satu pembicara di Diklat yang ditaja oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB itu.
Dia mengaku sangat senang Diklat itu digelar. Sebab bakal semakin banyak pengalaman dan ilmu yang didapat oleh warganya. “Sudah 18 tahun Riau selalu didera oleh bencana asap. Ini sangat berdampak bagi manusia dan lingkungan. Manusia kena penyakit, lingkungan rusak. Lantaran itu, penanganan, penanggulangan Karlahut musti jadi tugas kita bersama. Ndak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat,” katanya usai pembukaan Diklat itu, kemarin.
Di Siak kata Syamsuar, penanganan Karlahut musti lebih baik lagi. Tak berlebihan jika Syamsuar mengatakan seperti itu. Sebab sejak tahun 2014, Pemkab Siak sudah membikin sederet terobosan soal penanganan Karlahut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak, Wan Abdul Razak, merinci bahwa Pemkab Siak sudah memetakan mana-mana saja desa di Siak yang berpotensi Karlahut. Hasilnya, ada 71 desa di 14 kecamatan yang ada, berpotensi Karlahut.
Lima orang di tiap desa tadi kemudian dididik untuk penanganan dini Karlahut. Biar kerja mereka berjalan lancar, tiap desa dikasi biaya operasional Rp2 juta perbulan. “Jadi info dini soal potensi Karlahut, kita dapat dari mereka,” katanya.

Selain biaya operasional, tim di masing-masing desa ini juga dibekali peralatan seperti mesin pompa air, slang dan nozzle (penyemprot).

Apa yang sudah dilakukan oleh Pemkab Siak ini rupanya dipantau juga oleh Kementerian Dalam Negeri. Alhasil, tahun lalu Pemkab Siak diganjar sebagai daerah terbaik satu se-Indonesia soal penanganan Karlahut.

Di hari Pemadaman Kebakaran yang digelar di Kalimantan Selatan pada tahun lalu, Pemkab Siak kata Wan juga dapat menghargaan. “Bupati Siak didaulat menjadi narasumber di acara itu,” ujarnya.
Meski sudah melakukan banyak hal soal penanganan Karlahut tadi, Syamsuar masih berharap supaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mau membikin blocking canal di sejumlah titik yang ada di Siak. Khususnya di kawasan yang rentan terhadap Karlahut. Penertiban kawasan Cagar Biosfer juga menjadi teramat penting campur tangan pemerintah pusat. (hms)

Baca selengkapnya

Kerisauan Syamsuar di Raker LAM



Siak - Nampaknya Bupati Siak, Syamsuar, sudah lama memendam kerisauan tentang keseharian masyarakat melayu Siak. Tentang kecintaan pada agama, kebudayaan hingga siapnya mental masyarakat melayu Siak menghadapi perkembangan jaman.

Kerisauan tadi pun tumpah saat Datuk Setia Amanah ini didaulat memberikan arahan pada acara Rapat Kerja Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak di lantai dua gedung LAMR di kawasan jalan Hang Tuah, Siak Sri Indrapura, siang ini.

"Kita sudah berada pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sekarang sudah banyak warga di beberapa negara yang sengaja kursus di negaranya biar bisa bekerja di Indonesia. Ada warga Vietnam, Thailand, Philipina dan Myanmar. Mereka bahkan belajar budaya indonesia. Mereka bekerja di Indonesia bukan di sektor skill. Tapi malah ada yang cuma jadi supir taksi. Sepintas ini kelihatan sepele. Tapi sebenarnya serius," katanya. 

Masyarakat Siak kata Syamsuar musti siap dengan skillnya kalau mau menghadapi situasi semacam ini. "Di sini, peran LAM sangat dibutuhkan. Yuk dorong anak kemanakan kita untuk menjadi pekerja keras. Jangan lagi larut dengan kejayaan masa lalu. Sebab itu sudah berlalu," Syamsuar mengingatkan. 

Pemkab Siak sendiri kata Syamsuar sudah membikin garam cara untuk menghadapi MEA tadi. Yang paling sederhana adalah menggandeng salah satu perusahaan industri besar di Riau untuk membikin pelatihan bagi guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 

"Kerjasama ini bukan bertujuan supaya anak-anak SMK atau guru-guru itu bisa bekerja di sana. Tapi justru biar mereka tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh perusahaan industri sekarang ini. Kalau kita sudah tahu, tentu kita bisa melakukan persiapan," ujarnya. 

Dan yang paling penting kata Syamsuar, biar guru-guru bisa lebih kreatif saat mengajar. Tidak hanya sekadar menghabiskan jam kurikulum. "Kalau cuma menghabiskan jam kurikulum, alamat kiamatlah kita," katanya. 

Syamsuar juga mengingatkan generasi muda Siak soal pentingnya menjaga budaya melayu. "Orang luar saja mau belajar budaya melayu. Kalau sempat pula orang melayu ndak mau berbudaya melayu, alamat akan karamlah kita," Syamsuar mengingatkan. 

Masih banyak kerisauan yang dilontarkan Syamsuar di acara itu. Termasuk mengajak LAM untuk sama-sama mengingatkan anak kemanakan saat maghrib untuk tidak lagi berleha di luar. 

"Jadi, saya sangat berharap peran LAM untuk bersama pemerintah membikin terobosan demi mempertahankan dan menjaga kemelayuan tadi," pintanya. 

Ketua Umum LAMR Kabupaten Siak, Wan Anwar, mengamini apa yang menjadi kerisauan Syamsuar tadi. Dia pun langsung menegaskan kalau LAM Kabupaten Siak akan lebih getol lagi menjalankan program-program yang ada di LAM. 

Selain membikin sederet pelatihan tentang adat istiadat melayu, LAM kata Wan juga akan masuk ke sekolah-sekolah. Mereka akan menebar apa itu adat istiadat melayu. 

"Tahun ini bakal kami jalankan. Termasuk juga menyusun hukum adat untuk hal-hal tertentu. Ini sedang kami himpun bersama semua LAM yang ada di kecamatan," katanya. 
Baca selengkapnya

Lihat Geliat Wisata Siak,Tak Perlu Lagi ke Seine atau Liong Prancis



Siak - Tak lama lagi Anda tak perlu jauh-jauh datang Sungai Seine di Paris, Prancis, demi menikmati keindahan Jardin Tino Rossi Garden. Taman mungil yang membentang sekitar 600 meter di tepian Sungai Seine itu.  

Sebab tahun ini Pemkab Siak akan membangun turap indah sepanjang 471 meter lebih. Turap ini akan melengkapi turap yang sudah dibangun sebelumnya sepanjang 400 meter di kawasan kampung dalam hingga pasar lama.

Jika semuanya sudah rampung, Anda bakal bisa jalan santai menikmati alam dari kawasan Kampung Dalam di bagian Timur, tadi sampai ke Masjid Syahabuddin di bagian Barat, dipastikan kawasan indah bakal lebih indah dari Jardin Tino Rossi Garden tadi. 

Alasannya begini; turap yang 471 meter tadi dibagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah Plaza utama berbentuk lingkaran dengan diameter 82,64 meter. Plaza ini dibikin lebih tinggi 60 sentimeter dari permukaan jalur pedestrian. Biar orang lebih leluasa memandang.   

Bagian dua, jalur pedestrian yang terhubung langsung ke turap yang 400 meter tadi. Lebarnya dibikin hingga 12 meter. Biar orang lebih leluasa pula melakukan aktifitas. 

Dari sambungan ujung turap yang 400 meter tadi, jalur pedestrian ini memanjang hingga ke Suak Masjid Syahabuddin sejauh 235,55 meter. 

Di bagian tiga bakal ada tugu peringatan peristiwa bersejarah, sebagai tanda bersatunya Kerajaan Siak dengan NKRI.    

Bagian empat bakal ada mini plaza untuk tempat transit orang dari pedestrian dari arah timur maupun barat. Mini plaza ini dilengkapi jembatan klasik sepanjang 10,5 meter dan lebar 5 meter. 

Disitu juga dibikin gardu pandang berdiamater 20 meter dan tinggi 7 meter. Terus dekat gardu pandang ini juga dibikin floating dock sepanjang 40 meter dan lebar 4 meter.Terakhir dibagian lima, ada information center, pos jaga dan toilet. 

Nah, biar semua rencana ini berjalan lancar, tadi sore Bupati Siak Syamsuar membahas ini dengan sejumlah pemangku kepentingan di Zamrud Room, komplek rumah dinas Bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura. Dia ditemani Wakil Bupati Siak, Alfedri.

Di sana ada juga sejumlah kepala SKPD dan tokoh masyarakat Siak. Mulai dari OK Nijami Jamil, Wan Abu Bakar, Zulkifli dan yang lain. 

Syamsuar sengaja membahas rencana itu dengan para tokoh tadi biar tak ada pantang larang yang dilanggar. Maklum, semua ornamen yang mau dibikin di turap berbiaya total Rp40 miliar tadi sangat berkaitan dengan Kerajaan Siak dan Budaya Melayu. Alhasil para tokoh tadi bersemangat memberikan masukan. 

Sejak jadi bupati, Syamsuar tak hanya konsen untuk memperlancar akses antar kampung, mendongkrak ekonomi masyarakat maupun memberikan pelayanan prima di pemerintahan lewat birokrasi yang sudah ditata apik. Tapi dia juga serius mengurusi soal kebudayaan maupun potensi wisata yang ada di Siak. Makanya tahun 2013 lalu dia sudah membikin grand disain soal pengembangan kebudayaan itu.  

Kawasan Relaksasi

Kalau Anda datang ke Kabupaten Siak dari Pekanbaru, Anda tentu bakal singgah dulu di makam Putri Kacamayang di kawasan Kecamatan Gasib. Makam ini hanya berjarak 10 kilometer dari jalan lintas Perawang-Siak. 

Habis itu, Anda tentu bakal ke makam Tengku Buang Asmara dan Tangsi Belanda di kawasan Mempura sebelum kemudian menikmati indahnya jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah saat akan melintas ke kota Siak. 

Sampai di kota, Anda tinggal pilih, mau ke makam Sultan Syarif Kasim II, Balai Kerapatan dan Masjid Syahabuddin dulu, atau langsung ke Istana Matahari Timur, komplek makam Koto Tinggi dan gudang mesiu? 

Kolam Hijau dan makam Raja Kecik di Buantan juga tentu tak akan ketinggalan. Habis itu, sudah bisa dipastikan Anda bakal mencari tempat rehat sembari memandang tepian Sungai Siak. 

Untuk yang semacam inilah Pemkab Siak membangun semua tadi. Duduklah Anda pada malam di sana. Jembatan di mempura dan jembatan Tengku Agung Sultana Latifah akan nampak indah. Belum lagi kawasan tepian Mempura yang memang berseberangan langsung dengan tempat Anda rehat itu. Anda juga bakal menikmati indahnya air mancur di taman Mahratu sembari mencicipi kuliner khas Siak.



Baca selengkapnya

Most Recent

Blue Fire Pointer

Facebook

Advertising

Disqus Shortname

Comments system