Selasa, 16 Februari 2016

Tahniah dan Doa Dari ‘Negeri Istana’



Terhitung mulai hari ini, ada empat pasang kepala daerah yang akan segera menjalankan amanah rakyat. Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti serta Walikota dan Wakil Walikota Dumai.

Tiga dari pasangan kepala daerah ini masih serumpun dengan Kabupaten Siak. Sebab berasal dari kabupaten induk yang sama, Kabupaten Bengkalis. Dimana Bupati dan Wakil Bupati Bengkalis terpilih sendiri juga menjadi bagian dari pasangan yang segera menjalankan amanah itu.

Selaku rekan sejawat dan saudara serumpun, Bupati Syamsuar yang didampingi sang istri Hj Misnarni Syamsuar, bercerita bahwa momen ini sangat berarti bagi Kabupaten Siak yang berjuluk negeri istana.

"Kelak, akan banyak hal yang bisa kita diskusikan, kita kerjasamakan, demi mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan selaksa kebhinekaan potensi di daerah kita masing-masing" Kata Syamsuar usai menghadiri acara Pelantikan empat kepala daerah di Balai Serindit Kediaman Gubri (17/02).

Begitu juga dengan Kabupaten Indragiri Hulu kata Syamsuar. Ada banyak kesamaan potensi daerah yang bisa dikerjasamakan. "Khususnya potensi pariwisata peninggalan sejarah yang sama-sama kita punya" lanjutnya.

Sebagai daerah yang mengusung semangat Siak The Truly Malay, Datuk Setia Amanah ini menyimpan keyakinan, bahwa tiap daerah punya tujuan yang sama. Yaitu sama-sama berusaha untuk memajukan daerah dan mensejahterakan rakyat.

"Untuk itu saya Bupati Siak Syamsuar dan Wakil Bupati Siak Alfedri, bersama seluruh masyarakat Kabupaten Siak mengucapkan Tahniah. Doa kami, kiranya Allah SWT selalu mengawal langkah kita, hari-hari kita dalam menjalankan amanah itu, demi satu tujuan; memajukan daerah demi terwujudnya masyarakat yang agamis dan sejahtera" tutupnya.

Baca selengkapnya

Jumat, 12 Februari 2016

Menata Pusaka Negeri Istana



 
Siak punya modal besar untuk menjadi cagar budaya nasional dan kota pusaka. 

Lepas menemani Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, Nurmatias, Bupati Siak, Syamsuar, langsung  menggelar rapat bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Siak di Zamrud Room, komplek kediaman Bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.
 
Mulai dari Wakil Bupati Siak Alfedri, Sekda Siak Tengku Said Hamzah, Kadis Cipta Karya Irving Kahar, Ketua Bappeda Yan Prana, Kadis Pariwisata Hendrisan, serta sejumlah pejabat lain ikut duduk di ruangan itu.
 
Hasil obrolan Syamsuar dan Nurmatias sambil menengok sederet peninggalan sejarah di Siak yang kemudian dibuka lelaki 62 tahun ini di sana. Intinya, bahwa 14 situs bersejarah yang ada di Siak musti didaftar ulang, meski sebenarnya situs itu sudah pernah terdaftar.
 
Amanah undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang membikin Syamsuar harus ekstra kerja keras. “Untuk mendaftarkan ulang situs tadi kita musti membentuk tim cagar budaya daerah. Tim ini berjumlah 5 sampai 7 orang. Kalau 7 orang, 3 orang dari unsur pemerintah, sisanya tokoh dan para ahli,” kata Syamsuar.
 
Tim ini musti lolos assessment dulu. Assessor untuk tim ini adalah tim khusus bentukan kementerian. “Makanya saya minta Sekda mencari orang-orang yang layak untuk mengikuti assessment ini,” pinta Syamsuar. “Siapkan saja 10 orang,” tambahnya.
 
Ada dua penyebab utama yang membikin Syamsuar bergerak cepat. Pertama dia sudah membikin Grand Disain (GD) Pengembangan Kebudayaan Melayu di Siak. Lewat GD ini, dia ingin menunjukkan kalau Siak adalah melayu sebenarnya; Siak The Truly Malay. Siak menjadi pusat kebudayaan melayu di Nusantara.
 
Banyak yang musti dikerjakan Syamsuar untuk mewujudkan misi ini. Mulai dari mengumpulkan semua fakta dan peninggalan sejarah Kerajaan Siak yang pernah mashyur di pesisir timur Sumatera, menata kembali tradisi budaya yang pernah ada, musti dia jabani.
 
Nanti, hasil dari semua ini akan disandingkan Syamsuar dengan kekayaan peninggalan sejarah dan eksotika alam yang masih sangat terjaga.  Sebab Syamsuar dan semua pemangku kepentingan di Siak sudah sepaham bahwa ‘Negeri Istana’ musti bisa menjadi destinasi wisata alam dan budaya di Indonesia.  
 
Sebab modal untuk ini sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tengoklah peninggalan sejarah luar biasa bernama Istana Matahari Timur atau Istana Asserayah Hasyimiah yang masih berdiri kokoh di pusat Kota Siak Sri Indrapura. Ada sederet peninggalan unik yang tak akan pernah bisa ditemukan wisatawan di daerah bahkan negara lain.
 
Masih di kota itu, ada gudang mesiu, balai kerapatan tinggi, makam para raja, klenteng dan gereja tua serta pasar lama. Agak ke ke Barat, ada pula makam pendiri kerajaan Siak, Raja Kecik, kolam hijau di dekat suak gelanggang. Di timur ada pula makam putri kaca mayang.
 
Bibir sungai Siak, dari ujung kampung dalam hingga ke pasar lama sejauh 400 meter, sudah disulap menjadi kawasan pedestrian dan taman yang unik. Tahun ini, panjang itu ditambah hingga ke belakang masjid Syahabuddin di bagian timur. Di penambahan sepanjang hampir 500 meter ini, bakal ada taman, pedestrian dan monumen. Jika ini sudah rampung semua, banyak orang bilang bakal mengalahkan kawasan Lyon atau Seine di Prancis.
 
Lantas di seberang kota, persis di kecamatan Mempura, ada tangsi Belanda lengkap dengan ruang controleur, serta makam raja.  Lalu ada pula sederet objek wisata alam seperti Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.
 
Danau tujuh tingkat di Sungai Mandau dan Pantai Tanjung Layang di Kecamatan Sungai Apit, melengkapi itu semua. Belum lagi sumur minyak bersejarah dan Pusat Pelatihan Gajah di Kecamatan Minas.
 
Soal peninggalan sejarah Kerajaan Siak yang masih berserakan di luar Siak, seperti di Pekanbaru, Singapura, Sumatera Utara, Malaysia dan tempat lain, bakal dibikin peta komplitnya. Jadi, orang yang mau tahu tentang Siak yang sebenarnya, bisa berselancar lewat petunjuk lengkap yang ada di peta itu.
 
Lantaran komplitnya peninggalan sejarah yang ada di Kecamatan Siak Sri Indrapura dan Kecamatan Mempura, Pemkab Siak pun mengusulkan dua kawasan ini sebagai Kota Pusaka (Heritage City) ke Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Zonasi dua kawasan ini bakal dibikin. Sebab kelak, ada aturan main yang bakal berlaku di sini.
 
Jika sudah menjadi kota pusaka, maka Siak akan sejajar dengan  Kota tua Jakarta, Semarang, Sawah Lunto, Palembang, Bogor, Yogyakarta, Karangasem, Denpasar, Banjar Masin, Bau-bau, Banda Aceh dan Trowulan, yang sudah lebih dulu menjadi National Heritage.
 
Bagi Nedik Tri Nurcahyo, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, apa yang diinginkan oleh Pemkab Siak sangat bisa terwujud. Baik itu sebagai cagar budaya nasional, maupun Kota Pusaka. Sebab itu tadi, Siak punya banyak hal yang tak dimiliki oleh daerah lain. Salah satu yang sangat menonjol adalah istana dan adat istiadat melayu yang kental. Ini diwarnai pula dengan akulturasi budaya yang bagus antara Cina dan pribumi.
 
Keberagaman kata magister pengelolaan sumber daya budaya jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, menjadi sebuah kekuatan besar di Siak. “Akulturasi tadi menghasilkan kondisi seperti sekarang, luar biasa. Kelihatan sekali bahwa Raja Siak tidak menutup mata dengan bangsa lain. Dia justru welcome. Secara keilmuan dan secara pribadi saya kagum dengan Siak. Orang dulu membangun hubungan tak melihat dari sisi agamanya. Mereka malah berbaur. Di daerah lain banyak yang alergi rumah ibadah berdekatan. Di Siak justru tidak ada sama sekali,” katanya.
 
Untuk menjadi cagar budaya nasional misalnya, lelaki 47 tahun ini menyarankan supaya istana menjadi semacam komplek. “Artinya, istana satu komplek dengan masjid Syahabuddin, Balai Kerapatan, makam dan pasar lama. Ini menjadi satu kesatuan sejarah kolektif,” katanya di Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.
 
Lalu untuk menjadi Kota Pusaka, ayah tiga anak ini menyebut kalau Siak punya banyak hal yang bisa diandalkan. Tata letak perkantoran, jembatan yang super megah, kekunoan masa lalu dan hutan tua di tengah kota,  menjadi sesuatu yang sangat eksotis bagi wisatawan kelak.
 
Penempatan bangunan-bangunan Belanda di seberang sungai yang berhadapan dengan Istana Siak juga kata Nedik sangat menarik. “Di lihat dari tata ruang, sultan kayaknya sudah mengkondisikan. Bahwa di antara keduanya sama-sama saling mengawasi tapi tak ada konfrontasi. Ini sama kayak di Yogya. Di seberang keraton ada benteng Belanda. Yang kayak gini ini kan unik,” katanya.
 
Nedik mengingatkan, bahwa pusaka itu tak harus spesifik. Bisa kekunoan yang sangat penting bagi masyarakat, bisa pusaka alam, budaya atau saujana budaya (perpaduan antara alam dan budaya). Yang paling penting itu kata Nedik, semua pemangku kepentingan musti ngumpul dulu untuk menentukan apa yang bakal dimasukkan dalam Kota Pusaka itu.
 
Pusaka apa saja yang bakal ditonjolkan dan menjadi beda dengan daerah lain.  “Dan harus disepakati juga bahwa kelak pusaka itu tak akan hilang. Sebab kalau hilang, tidak pusaka lagi namanya,” ujar Nedik.
 
Sejak sekarang menjadi cagar budaya dan kota Pusaka kata Nedik, akan membikin Siak semakin kemilau di masa depan. Dan semua itu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Daya tarik lebih yang dimiliki Siak, sudah mendatangkan devisa dari kunjungan wisatawan yang semakin melimpah.
 
“Ini pulalah bedanya Siak dengan daerah lain. Sebelum benar-benar menjadi kota besar, Siak sudah menata daerahnya. Banyak daerah di dunia yang setelah maju dulu baru terseok-seok mencari jati dirinya. Asal usulnya,” ujar Nedik
Baca selengkapnya

Kamis, 11 Februari 2016

Bupati Siak Ekspos Penanganan Karlahut



Selama lima hari ke depan, ada 70 orang masyarakat dari tujuh desa yang ada di Kabupaten Siak mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) Berbasis Masyarakat di Aula Pinus Balai Diklat Kehutanan Provinsi Riau, di Pekanbaru, Rabu (10/2) kemarin. Mereka berbaur dengan utusan Indragiri Hilir dan Kampar yang masing-masing 10 orang.
Bupati Siak, Syamsuar, jadi salah satu pembicara di Diklat yang ditaja oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB itu.
Dia mengaku sangat senang Diklat itu digelar. Sebab bakal semakin banyak pengalaman dan ilmu yang didapat oleh warganya. “Sudah 18 tahun Riau selalu didera oleh bencana asap. Ini sangat berdampak bagi manusia dan lingkungan. Manusia kena penyakit, lingkungan rusak. Lantaran itu, penanganan, penanggulangan Karlahut musti jadi tugas kita bersama. Ndak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat,” katanya usai pembukaan Diklat itu, kemarin.
Di Siak kata Syamsuar, penanganan Karlahut musti lebih baik lagi. Tak berlebihan jika Syamsuar mengatakan seperti itu. Sebab sejak tahun 2014, Pemkab Siak sudah membikin sederet terobosan soal penanganan Karlahut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak, Wan Abdul Razak, merinci bahwa Pemkab Siak sudah memetakan mana-mana saja desa di Siak yang berpotensi Karlahut. Hasilnya, ada 71 desa di 14 kecamatan yang ada, berpotensi Karlahut.
Lima orang di tiap desa tadi kemudian dididik untuk penanganan dini Karlahut. Biar kerja mereka berjalan lancar, tiap desa dikasi biaya operasional Rp2 juta perbulan. “Jadi info dini soal potensi Karlahut, kita dapat dari mereka,” katanya.

Selain biaya operasional, tim di masing-masing desa ini juga dibekali peralatan seperti mesin pompa air, slang dan nozzle (penyemprot).

Apa yang sudah dilakukan oleh Pemkab Siak ini rupanya dipantau juga oleh Kementerian Dalam Negeri. Alhasil, tahun lalu Pemkab Siak diganjar sebagai daerah terbaik satu se-Indonesia soal penanganan Karlahut.

Di hari Pemadaman Kebakaran yang digelar di Kalimantan Selatan pada tahun lalu, Pemkab Siak kata Wan juga dapat menghargaan. “Bupati Siak didaulat menjadi narasumber di acara itu,” ujarnya.
Meski sudah melakukan banyak hal soal penanganan Karlahut tadi, Syamsuar masih berharap supaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mau membikin blocking canal di sejumlah titik yang ada di Siak. Khususnya di kawasan yang rentan terhadap Karlahut. Penertiban kawasan Cagar Biosfer juga menjadi teramat penting campur tangan pemerintah pusat. (hms)

Baca selengkapnya

Kerisauan Syamsuar di Raker LAM



Siak - Nampaknya Bupati Siak, Syamsuar, sudah lama memendam kerisauan tentang keseharian masyarakat melayu Siak. Tentang kecintaan pada agama, kebudayaan hingga siapnya mental masyarakat melayu Siak menghadapi perkembangan jaman.

Kerisauan tadi pun tumpah saat Datuk Setia Amanah ini didaulat memberikan arahan pada acara Rapat Kerja Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak di lantai dua gedung LAMR di kawasan jalan Hang Tuah, Siak Sri Indrapura, siang ini.

"Kita sudah berada pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sekarang sudah banyak warga di beberapa negara yang sengaja kursus di negaranya biar bisa bekerja di Indonesia. Ada warga Vietnam, Thailand, Philipina dan Myanmar. Mereka bahkan belajar budaya indonesia. Mereka bekerja di Indonesia bukan di sektor skill. Tapi malah ada yang cuma jadi supir taksi. Sepintas ini kelihatan sepele. Tapi sebenarnya serius," katanya. 

Masyarakat Siak kata Syamsuar musti siap dengan skillnya kalau mau menghadapi situasi semacam ini. "Di sini, peran LAM sangat dibutuhkan. Yuk dorong anak kemanakan kita untuk menjadi pekerja keras. Jangan lagi larut dengan kejayaan masa lalu. Sebab itu sudah berlalu," Syamsuar mengingatkan. 

Pemkab Siak sendiri kata Syamsuar sudah membikin garam cara untuk menghadapi MEA tadi. Yang paling sederhana adalah menggandeng salah satu perusahaan industri besar di Riau untuk membikin pelatihan bagi guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 

"Kerjasama ini bukan bertujuan supaya anak-anak SMK atau guru-guru itu bisa bekerja di sana. Tapi justru biar mereka tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh perusahaan industri sekarang ini. Kalau kita sudah tahu, tentu kita bisa melakukan persiapan," ujarnya. 

Dan yang paling penting kata Syamsuar, biar guru-guru bisa lebih kreatif saat mengajar. Tidak hanya sekadar menghabiskan jam kurikulum. "Kalau cuma menghabiskan jam kurikulum, alamat kiamatlah kita," katanya. 

Syamsuar juga mengingatkan generasi muda Siak soal pentingnya menjaga budaya melayu. "Orang luar saja mau belajar budaya melayu. Kalau sempat pula orang melayu ndak mau berbudaya melayu, alamat akan karamlah kita," Syamsuar mengingatkan. 

Masih banyak kerisauan yang dilontarkan Syamsuar di acara itu. Termasuk mengajak LAM untuk sama-sama mengingatkan anak kemanakan saat maghrib untuk tidak lagi berleha di luar. 

"Jadi, saya sangat berharap peran LAM untuk bersama pemerintah membikin terobosan demi mempertahankan dan menjaga kemelayuan tadi," pintanya. 

Ketua Umum LAMR Kabupaten Siak, Wan Anwar, mengamini apa yang menjadi kerisauan Syamsuar tadi. Dia pun langsung menegaskan kalau LAM Kabupaten Siak akan lebih getol lagi menjalankan program-program yang ada di LAM. 

Selain membikin sederet pelatihan tentang adat istiadat melayu, LAM kata Wan juga akan masuk ke sekolah-sekolah. Mereka akan menebar apa itu adat istiadat melayu. 

"Tahun ini bakal kami jalankan. Termasuk juga menyusun hukum adat untuk hal-hal tertentu. Ini sedang kami himpun bersama semua LAM yang ada di kecamatan," katanya. 
Baca selengkapnya

Lihat Geliat Wisata Siak,Tak Perlu Lagi ke Seine atau Liong Prancis



Siak - Tak lama lagi Anda tak perlu jauh-jauh datang Sungai Seine di Paris, Prancis, demi menikmati keindahan Jardin Tino Rossi Garden. Taman mungil yang membentang sekitar 600 meter di tepian Sungai Seine itu.  

Sebab tahun ini Pemkab Siak akan membangun turap indah sepanjang 471 meter lebih. Turap ini akan melengkapi turap yang sudah dibangun sebelumnya sepanjang 400 meter di kawasan kampung dalam hingga pasar lama.

Jika semuanya sudah rampung, Anda bakal bisa jalan santai menikmati alam dari kawasan Kampung Dalam di bagian Timur, tadi sampai ke Masjid Syahabuddin di bagian Barat, dipastikan kawasan indah bakal lebih indah dari Jardin Tino Rossi Garden tadi. 

Alasannya begini; turap yang 471 meter tadi dibagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah Plaza utama berbentuk lingkaran dengan diameter 82,64 meter. Plaza ini dibikin lebih tinggi 60 sentimeter dari permukaan jalur pedestrian. Biar orang lebih leluasa memandang.   

Bagian dua, jalur pedestrian yang terhubung langsung ke turap yang 400 meter tadi. Lebarnya dibikin hingga 12 meter. Biar orang lebih leluasa pula melakukan aktifitas. 

Dari sambungan ujung turap yang 400 meter tadi, jalur pedestrian ini memanjang hingga ke Suak Masjid Syahabuddin sejauh 235,55 meter. 

Di bagian tiga bakal ada tugu peringatan peristiwa bersejarah, sebagai tanda bersatunya Kerajaan Siak dengan NKRI.    

Bagian empat bakal ada mini plaza untuk tempat transit orang dari pedestrian dari arah timur maupun barat. Mini plaza ini dilengkapi jembatan klasik sepanjang 10,5 meter dan lebar 5 meter. 

Disitu juga dibikin gardu pandang berdiamater 20 meter dan tinggi 7 meter. Terus dekat gardu pandang ini juga dibikin floating dock sepanjang 40 meter dan lebar 4 meter.Terakhir dibagian lima, ada information center, pos jaga dan toilet. 

Nah, biar semua rencana ini berjalan lancar, tadi sore Bupati Siak Syamsuar membahas ini dengan sejumlah pemangku kepentingan di Zamrud Room, komplek rumah dinas Bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura. Dia ditemani Wakil Bupati Siak, Alfedri.

Di sana ada juga sejumlah kepala SKPD dan tokoh masyarakat Siak. Mulai dari OK Nijami Jamil, Wan Abu Bakar, Zulkifli dan yang lain. 

Syamsuar sengaja membahas rencana itu dengan para tokoh tadi biar tak ada pantang larang yang dilanggar. Maklum, semua ornamen yang mau dibikin di turap berbiaya total Rp40 miliar tadi sangat berkaitan dengan Kerajaan Siak dan Budaya Melayu. Alhasil para tokoh tadi bersemangat memberikan masukan. 

Sejak jadi bupati, Syamsuar tak hanya konsen untuk memperlancar akses antar kampung, mendongkrak ekonomi masyarakat maupun memberikan pelayanan prima di pemerintahan lewat birokrasi yang sudah ditata apik. Tapi dia juga serius mengurusi soal kebudayaan maupun potensi wisata yang ada di Siak. Makanya tahun 2013 lalu dia sudah membikin grand disain soal pengembangan kebudayaan itu.  

Kawasan Relaksasi

Kalau Anda datang ke Kabupaten Siak dari Pekanbaru, Anda tentu bakal singgah dulu di makam Putri Kacamayang di kawasan Kecamatan Gasib. Makam ini hanya berjarak 10 kilometer dari jalan lintas Perawang-Siak. 

Habis itu, Anda tentu bakal ke makam Tengku Buang Asmara dan Tangsi Belanda di kawasan Mempura sebelum kemudian menikmati indahnya jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah saat akan melintas ke kota Siak. 

Sampai di kota, Anda tinggal pilih, mau ke makam Sultan Syarif Kasim II, Balai Kerapatan dan Masjid Syahabuddin dulu, atau langsung ke Istana Matahari Timur, komplek makam Koto Tinggi dan gudang mesiu? 

Kolam Hijau dan makam Raja Kecik di Buantan juga tentu tak akan ketinggalan. Habis itu, sudah bisa dipastikan Anda bakal mencari tempat rehat sembari memandang tepian Sungai Siak. 

Untuk yang semacam inilah Pemkab Siak membangun semua tadi. Duduklah Anda pada malam di sana. Jembatan di mempura dan jembatan Tengku Agung Sultana Latifah akan nampak indah. Belum lagi kawasan tepian Mempura yang memang berseberangan langsung dengan tempat Anda rehat itu. Anda juga bakal menikmati indahnya air mancur di taman Mahratu sembari mencicipi kuliner khas Siak.



Baca selengkapnya

Kamis, 10 September 2015

Semarak Tour de Siak 2015, Dari “Gelegar” Judika Hingga Magician “Mengambang” di Udara.



Helat Tour de Siak (TdS) 2015 dijamin jauh lebih semarak tahun ini. Hari-hari jelang dibuka secara resmi, Negeri Istana akan kebanjiran beragam kegiatan atraktif dan menghibur. Diperkirakan ribuan masyarakat Provinsi Riau dari berbagai daerah, akan tumpah-ruah didepan Istana Aserayah El Hasyimiyah kebanggaan masyarakat Siak.

Selain akan dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Arief Yahya, Iven Balap Sepeda berskala internasional itu juga akan diramaikan Penampilan Jebolan Indonesia Idol Judika. “Ini kali kedua Judika mengguncang Tour de Siak. Tahun lalu Judika juga tampil di penutupan dan mendapatkan animo luar biasa dari masyarakat, jadi tahun ini kita undang lagi” kata Hendrisan, Kepala Dinas Pariwisata dan Olahraga Kabupaten Siak.

Tak hanya itu, rangkaian TdS 2015 ini juga menjanjikan segudang hiburan. Mulai dari Lomba Foto dan Bazaar Pameran Ekonomi Kreatif pada Senin 14 September 2015. Keesokan harinya Selasa 15 September 2015, pengunjung dapat menyaksikan Parade Riders dan Fun Bike dari pagi hingga siang hari, sementara malam harinya akan berlangsung acara puncak Opening Ceremony Tour de Siak 2015.

Sepanjang hari selama sepekan pelaksanaan TdS, berbagai tampilan musik dan kesenian modern dan tradisional tetap akan tampil menghibur. Diantaranya Parade Tari dan Musik Tradisional Melayu Siak, Barongsai, Jaipongan Sunda, Band Akustik, serta Musik Orkestra Siak. “Agar lebih semarak, kita juga akan adakan lomba akustik dan menampilkan atraksi magician yang bisa mengambang di udara” kata Roni Rakhmat, Kabag Umum Setda Kabupaten Siak. Anda tertarik merasakan langsung semarak Tour de Siak 2015? Datang saja ke Siak Sri Indrapura 14-19 September 2015.
Baca selengkapnya

Sabtu, 05 September 2015

Ingin jadikan TDS 2015 milik masyarakat Riau, Humas Pemkab Siak Lakukan Aksi di CFD.




Berbagai upaya terus dilakukan Pemkab Siak untuk mempublikasikan Iven Tour De Siak (TDS) 2015. Salah satunya melalui aksi turun kejalan untuk mensosialisasikan iven balap sepeda berskala internasional itu, seperti yang dilakukan Humas Pemkab Siak pada ajang Car Free Day yang berlokasi di Jalan Diponegoro Kota Pekanbaru, Minggu (06/09/15).

Selain menggandeng sejumlah media massa dan memaksimalkan publikasi luar ruang melalui pemasangan Billboard di Kota Siak Sri Indrapura, Pekanbaru dan Jakarta, Humas Pemkab Siak juga memanfaatkan ajang CFD di Pekanbaru untuk menarik minat wisatawan domestik, untuk datang langsung dan menyaksikan iven Tour De Siak.

"Kita ingin TDS ini tidak hanya dinikmati dan disaksikan masyarakat Siak saja, tapi juga menjadi milik dan kebanggaan masyarakat Provinsi Riau secara luas", kata Kabag Humas Alzukri SPd. Dipilihnya lokasi CFD di pusat Ibukota Provinsi Riau ini menurutnya, karena nilai strateginya yang menjadi lokasi berkumpulnya masyarakat Riau dari berbagai Kabupaten Kota di akhir pekan.

Tampak antusiasme yang cukup tinggi dari pengunjung CFD, terlihat dari banyaknya pengunjung yang singgah untuk melihat Foto-foto karya pemenang Lomba Foto TDS tahun lalu, selain menikmati video profil TDS dan pariwisata yang ditampilkan.

"Tak sampai satu jam, brosur lomba foto dan majalah yang kita bagikan habis oleh pengunjung, banyak juga yang minta namun tak kebagian, ya terpaksa dikirim via email" kata ketua PPID Kabupaten Siak ini.

Nantinya selain datang langsung ke Siak Sri Indrapura, masyarakat luas juga dapat menyaksikan opening ceremony TDS 2015 melalui siaran langsung televisi dan radio lokal. "Selain itu informasi pelaksanaan TDS juga kita update melalui media online dan sosial media. Kita ingin masyarakat Riau turut merasa memiliki dan bergembira dengan TDS ini" pungkasnya.

Rangkaian pelaksanaan kegiatan Tour De Siak 2015 direncanakan dimulai pada tanggal 14-20 September mendatang. Selain diikuti 8 tim dari dalam negeri, atlit-atlit 10 tim mancanegara turut berkompetisi pada pelaksanaan iven prestisius kali ketiga ini.




Baca selengkapnya

Most Recent

Blue Fire Pointer

Facebook

Advertising

Disqus Shortname

Comments system